Mengenal HORENSO: Metode Pelaporan Kerja ala Jepang

vnmanpower dot com
vnmanpower.com

“Makanya horenso-nya dong, share, jangan apa-apa dipikir sendiri.”

Bagi teman-teman yang sedang atau pernah bekerja di perusahaan Jepang, tentunya tidak asing dengan kalimat di atas. Biasanya kalau atasan mengetahui ada masalah dengan tugas yang sedang dikerjakan bukan dari kita langsung, kalimat teguran di atas akan kita dapatkan. Horenso ini adalah salah satu elemen dari budaya kerja Jepang.

Perusahaan – perusahaan Jepang menggunakan horenso dalam komunikasi bisnis internal mereka. Horenso sendiri sebenarnya adalah akronim dari Hokoku-Renraku-Sodan atau Report (Melapor) – Contact (Menghubungi) – Consult (Berkonsultasi). Metode ini dapat dipraktikkan oleh seorang atasan dan seorang bawahan, klien dan pemasok, manajer dan staf.

Latar Belakang

Ditemukan suatu temuan yang menarik oleh seorang pionir keselamatan industri AS bernama Herbert Heinrich (1886-1962). Bahwa di dalam 1 kecelakaan pada lingkungan kerja, di belakangnya ada 29 “kecelakaan kecil” yang mengikuti sebelumnya. Kumpulan masalah yang dianggap remeh/kecil ternyata menjadi akumulasi yang menyebabkan masalah besar. Heinrich menyebutkan jika human error atau kesalahan manusia adalah penyebab penumpukkan masalah tersebut.

Frank Bird Jr. (1921-2007) menyempurnakan teori Heinrich dengan menekankan bagaimana pentingnya manajemen kontrol dalam suksesnya program pencegahan kecelakaan. Diperlukan informasi dan penjelasan tentang bahaya yang ada sehingga dapat dicegah terjadinya kecelakaan yang tidak perlu.

Tujuan

Dari 2 teori di atas, terdapat akar masalah yang sama tentang bagaimana kecelakaan atau masalah terjadi. Yaitu human error yang kebanyakan berupa lupa dan kekurang pahaman sumber daya manusia terkait atas pekerjaannya. Horenso bertujuan untuk

Continue reading “Mengenal HORENSO: Metode Pelaporan Kerja ala Jepang”

Menyusuri Martapura: Ibukota Terakhir Kesultanan Banjar

dsc_0404

Sebelumnya hanya Bali, satu-satunya pulau di Indonesia yang pernah saya kunjungi di luar pulau Jawa. Di Bali saya merasa, budaya dan karakteristik masyarakatnya masih ada kemiripan dengan di Jawa. Mungkin karena sebagian penduduk Bali dulunya adalah orang-orang Jawa Majapahit yang berpindah ke sana.

Perjalanan ke Kalimantan ini, adalah perjalanan pertama kalinya saya ke tempat yang harusnya berbeda sama sekali baik dari  adat, budaya dan karakteristik masyarakatnya. Terlebih sebelumnya, saya sudah mendapat beberapa gambaran yang mencitrakan bagaimana karakter masyarakat Kalimantan itu.

Saya berangkat bersama beberapa teman kerja ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan via udara dan mendarat di Bandara Syamsudin Noor. Dari Banjarmasin, saya melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat menuju Martapura. Martapura sendiri adalah nama Kecamatan yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Banjar,  jaraknya sekitar 40 KM dari Banjarmasin.

Mendengar Martapura, saya langsung mengaitkannya dengan intan dan rupa-rupa batu permata. apalagi waktu itu “demam batu” sedang melanda. Kota ini menjadi ibukota terakhir Kesultanan Banjar yang di masa jayanya, wilayahnya membentang dari Tanjung Sambar, Kalimantan Barat sampai ke Tanjung Aru di Kalimantan Timur.

Dalam masa dinas kerja yang sempit, hanya sejak Sabtu sore sampai dengan Minggu malam kami free, saya ingin meluangkan waktu untuk melihat-lihat objek wisata di sini. Setelah searching dan bertanya ke orang setempat, beberapa objek wisata yang bisa kami kunjungi adalah: Soto Banjar Anang, Pasar Apung, Pulau Kembang dan Pasar Intan Martapura.

  1. Soto Banjar Anang Martapura
soto-banjar-anang
kompasiana.com, kulineran.blogspot.co.id

“Sotonya Anang yang penyanyi itu?” begitu tanya saya ketika rekan kantor cabang setempat merekomendasikan kami untuk mencoba soto ini. Bukan milik Anang suaminya Ashanty ya, ini adalah soto banjar yang menjadi andalan kuliner Martapura. Kebetulan saja nama pemiliknya juga Anang. Soto Banjar ini dihidangkan dalam piring dengan telur bebek, bihun dan suwiran daging ayam.

Mungkin soal selera, namun lidah saya tidak terlalu cocok dengan sotonya. Dibilang soto tapi penyajiannya di piring dengan kuah dan nasi yang sudah bercampur. Sebenarnya lebih mirip sop kan? Tapi lumayanlah buat jadi penghangat perut di tengah cuaca yang sedang mendung.

2. Pasar Terapung di Sungai Barito

Masih ingat adegan iklan RCTI? ada ramai orang naik perahu-perahu kecil membawa sayur dan dagangan lainnya, lalu ending-nya salah satu ibu di perahu itu tersenyum dan mengacungkan ibu jari tangannya?

Ternyata lokasi iklan yang memorable itu ada di sini, pasar terapung sungai Barito. Untuk menuju ke sana, kami berangkat sebelum subuh saat mata masih kriyep-kriyep ke arah Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah (nama sultan pertama Kesultanan Banjar). Dari sana nanti titik keberangkatan perahu yang telah kami pesan untuk menyusuri sungai Barito.

dermaga-perahu-masjid-sultan-suriansyah

Seusai sholat berjama’ah, kami segera ke dermaga kecil di depan masjid, tempat warga lokal yang menawarkan jasa sewa perahu berada. Setelah memastikan lagi soal harga, kami segera naik dan perahu pun berangkat.

Gerak perahu membawa kami menyusur lurus ke arah selatan. Suasana subuh yang syahdu dan segar memberi kesan yang berbeda. Di tepian sungai tampak rumah-rumah warga yang mulai hidup. Para penghuninya akan segera memulai hari. Suara-suara mengaji masih terdengar dari kejauhan… Continue reading “Menyusuri Martapura: Ibukota Terakhir Kesultanan Banjar”

Mengenal Bisnis Fast Moving Consumer Goods

Dalam keseharian, kita sudah berinteraksi dengan industri ini. Kita mengkonsumsi barang-barang seperti kecap, saus tomat, sabun, sampo serta makanan dan minuman kemasan. Barang-barang tersebut biasanya dikenali dari merek yang beragam dengan jenis dan harga yang berbeda. Merek-merek itu dimiliki oleh perusahaan FMCG nasional maupun asing (multinational company).

produk-consumer-goods
Produk Consumer Goods (kantar worldpanel)

Jadi sebenarnya apa itu industri FMCG?

Continue reading “Mengenal Bisnis Fast Moving Consumer Goods”

Gara-gara Mujigae Resto

Halo semua! Setelah tulisan terakhir tentang kuliner di Ketan Susu Kemayoran, saya akan mengulas kuliner lagi di sini.

Saya yang lidahnya sangat ndeso, yang lebih nyaman mulut dan perutnya dengan makanan lokal tertarik untuk mencoba makanan Korea gara-gara ini: Mujigae Resto!

Mujigae Resto memang sedang menjadi topik terhangat bagi para penikmat kuliner, khususnya penikmat kuliner Korea. Sudah banyak komentar positif tentang rasa makanan yang lezat dengan biaya terjangkau dari teman-teman. Sampai akhirnya, saya tidak tahan juga untuk mencoba.

Continue reading “Gara-gara Mujigae Resto”