Sebuah Perjalanan, Sebuah Perspektif

from google images

Awal kehidupan adalah awal dari perjalanan. Manusia ditakdirkan menjadi makhluk pengembara sejati, yang mengembara untuk mencari saripati kehidupannya. Seperti halnya aku, seorang manusia lemah yang sedang berusaha untuk menemukan jiwa sejatiku. Jiwa inilah yang akan aku bawa menuju tempat peristirahatan perjalananku.

Dalam kitab penuntun laku manusia, Al Quran, dalam surah pertamanya, Al Fatihah: Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ini adalah pertanda, bahwa penting bagi kita, umat masa kini, untuk berhati-hati dalam perjalanan kehidupan kita. Bahwa yang terpenting dalam kehidupan ini adalah meniti jalan kebenaran, jalan manusia-manusia mulia yang diberi petunjuk oleh Allah, dan bukan jalan manusia-manusia yang akan dibinasakanNya.

Walaupun pasti, jalan kebenaran akan sangat berliku. Jalan yang lurus akan dicapai setelah kita melewati bermil-mil jalan yang berliku, sampai akhirnya kita nanti akan sampai pada tujuan yang telah dijanjikanNya. Sungguh, jika kita amati kejadian di muka bumi ini, kita akan mengetahui seberapa berharganya sebuah perjalanan bagi peradaban. Peradaban bani israil yang dipimpin oleh Musa as, peradaban Islam yang ditandai dengan hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah, sampai peradaban kontemporer, peradaban Amerika yang ditandai dengan migrasinya jutaan orang Eropa dan dari belahan bumi lainnya menuju benua baru, untuk merengkuh mimpi mereka disana. Bahkan kita bisa lihat dalam keadaan sekarang, betapa orang-orang Padang, Bugis, Madura ataupun orang Cina yang terkenal sebagai bangsa perantau memperoleh kesuksesannya di tanah-tanah tujuan mereka. Bangsa Yahudi pun, yang cuma mewakili sekitar kurang lebih 2% populasi dunia dan berdiaspora di berbagai penghujung bumi, mendominasi dunia dalam bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan.

Sebuah perjalanan, dengan melewati berbagai masa dan mengarungi daerah demi daerah dalam prosesnya akan menghadirkan sebuah pandangan atau perspektif hidup. Sari kehidupan akan dituangkan dalam gagasan-gagasan tentang kehidupan, dan cara pandangnya terhadap kejadian-kejadian di dalamnya. Yang diharapkan adalah, bahwa dalam setiap perjalanan yang ditempuh berkesesuaian dengan kehendak Penciptanya.

Sukses dimulai dengan sebuah perjalanan, apakah itu perjalanan dari pribadi yang buruk menuju pribadi yang baik, perjalanan manusia meninggalkan tanah kelahirannya, ataupun perjalanan manusia meninggalkan perspektif  lamanya menuju perspektif baru yang lebih paripurna.

Imam Syafi’i bersyair:

Ciri orang yang berakal dan berbudaya adalah tidak akan tinggal seterusnya di satu tempat. Meninggalkan tempat tinggalnya untuk mengembara itulah bagian dari istirahatnya.

Pergilah dengan penuh keyakinan! Niscaya akan engkau temukan pengganti apa-apa yang engkau tinggalkan. Bekerja keraslah, karena hidup akan terasa nikmat setelah bekerja.

Sungguh aku melihat air yang tergenang dan terhenti memercikkan bau yang tak sedap. Andaikan saja ia mengalir, air itu akan terlihat bening dan sehat. Sebaliknya jika engkau biarkan air itu menggenang, ia akan membusuk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s