Negeri Ilmu

Pertama kali melangkahkan kaki disana, sambil berfikir bahwa ini adalah batas terluar, terjauh dari orbit kehidupanku selama ini, Ponorogo. Membayangkan bahwa aku akan menghabiskan hari-hari yang panjang di tempat itu, di kota itu, tempat dimana fatwa jihad dikeluarkan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan disambut oleh ribuan jiwa mujahid untuk berjuang mempertahankan negerinya di Surabaya, kota yang mendapat julukan “Kota Pahlawan” karena peristiwa super heroik itu terjadi disana.

Hati ini sudah bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Berdesir, karena semangat dan khawatir. Berdesir semangat karena ini adalah tantangan, ini adalah sesuatu yang benar-benar baru, dan ini adalah semacam rintisan tradisi dalam keluargaku. Khawatir, karena berpikir apakah aku benar-benar siap untuk ini? untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk saat kita berada di luar jangkauan orang-orang yang biasa menyayangi dan melindungi kita.Ā  Tapi pada akhirnya, jawaban “Ya” yang kuberikan pada ayahku, saat beliau menawarkan “Nak, apakah kamu tertarik untuk masuk pesantren?” telah menempatkanku pada posisi, siap atau tidak siap pokoknya harus siap. Segala celoteh-celotehanku, angan-anganku di masa lalu akhirnya menjadi kenyataan, aku menuntut ilmu di pondok pesantren!

Memang tidak semua pandangan idealisku tentang kehidupan pesantren terjadi disana, tetapi sungguh, banyak pelajaran kehidupan yang kudapatkan disana. Pelajaran kehidupan yang mungkin tidak akan kudapatkan jika aku tetap berada di sekitar orbit yang membuatku merasa nyaman, di kampung halamanku. Disana adalah tempat aku mengalami masa-masa pencarian jati diriku, masa pemberontakanku, dan seperti kata orang-orang, “Masa-masa SMA adalah masa-masa terindah”.

Sejak kita terbangun dari bunga-bunga tidur, ketika hawa embun pagi yang menyejukkan terhirup oleh hidung dan membelai kulit badan kita. Itu adalah tanda bahwa proses pengendapan ilmu telah dimulai, saat itu juga. Betapa berkesannya pagi-pagi disana. Selalu terhembus syahdu yang khas di hati, membuat hati yang pernah merasakan akan selalu merindu. Rembesan-rembesan keikhlasan dari para ustad, bapak dan ibu guru, para kyai dan bahkan dari para ibu-ibu penjual makanan, para petugas kebersihan, petugas keamanan, memberikan rasa yang benar-benar berbeda disana. Pada saat akhirnya, konsep mengharap barokah lebih bergaung daripada konsep materialis yang mengharapkan keuntungan kebendaan semata.

Darul ‘Ulum adalah “Negeri Ilmu”, negeri yang tidak pernah lelah mengalirkan segala khazanah kehidupan kepada penduduknya, para pencari ilmu.

Iklan

6 thoughts on “Negeri Ilmu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s