Masalah Hidup

Beberapa waktu yang lalu ada seorang sahabat yang menghubungi saya, ingin berkunjung ke tempat saya ingin berdiskusi. Ketika akhirnya kita bertemu, tahulah saya bahwa yang ingin dia diskusikan adalah suatu permasalahan yang sedang dia hadapi. Saya mencoba untuk menyimak setiap kisah dan kata yang disampaikan, sembari saya mencoba mengumpulkan jawaban untuk masalahnya. Saya mencoba merangkai kata nasehat yang bisa menghibur dan menenangkannya. Mencoba mengingat beberapa petuah bijak dari buku atau khotbah yang pernah saya baca dan dengar untuk disampaikan. Tapi begitu dia bercerita lebih jauh saya tersadar kalau masalah yang dia hadapi sama sekali berbeda dengan yang pernah saya alami. Saya bukan berada di posisi dia. Tentu saya mencoba untuk membayangkan bagaimana jika saya yang berada di posisi itu, dan bagaimana mengatasinya tapi tetap gak dapet feelnya. Akhirnya saya memutuskan untuk fokus mendengar kisahnya.

Permasalahan yang dihadapi sahabat saya ini bisa dibilang kaffah atau komplet. Dari masalah akademis sampai masalah agama. Dari yang saya tangkap, masalah yang dia hadapi saat ini adalah hasil akumulasi dari masalah sebelumnya, yang seharusnya dia fokus untuk menyelesaikannya tapi tertunda karena dia memilih untuk mengerjakan hal yang lain. Dan bagaimana sebenarnya penyebab dari masalah-masalah yang dia hadapai saat ini bersumber hanya dari satu masalah, yang akhirnya merembet kemana-mana. Maka saran yang saya berikan padanya adalah untuk fokus menyelesaikan satu hal utama dulu, prioritaskan agar masalah yang menjadi akar ini tuntas.

Berikutnya, saya juga sampaikan bahwa masalah yang kita hadapi ini sebenarnya hanya kita sendiri yang mampu menghadapi dan menyelesaikannya. Hal ini saya katakan karena akhirnya saya paham bahwa sahabat saya ini memiliki kehidupan dan latar belakang yang sama sekali berbeda dengan saya. Dia memiliki ceritanya sendiri, saya pun memiliki cerita sendiri. Perbedaan kepribadian, kondisi mental saat ini, situasi keluarga dan faktor lingkungan yang sedang mempengaruhi sangat berbeda. Saya hanya memberikan saran yang menurut saya sifatnya universal. Tapi pada akhirnya dia sendiri yang harus menghadapi dan menyelesaikan masalahnya. Menggunakan caranya sendiri, dengan kepribadian dan mentalnya, serta caranya untuk deal bersama situasi keluarga yang sedang terjadi dan lingkungan yang mempengaruhi.

Diakhir diskusi, dia mengucapkan terimakasih kepada saya. Padahal sebenarnya sayalah yang merasa berterimakasih. Karena berkat diskusi dengannya saya mendapat suatu pembelajaran baru. Bahwa seberat apapun masalah yang kita hadapi, penyelesainya adalah kita sendiri. Karena tidak mungkin Tuhan “mengamanahkan” suatu masalah yang manusia itu tidak bisa mengatasinya.

Doaku untukmu Sobat…

Iklan

2 thoughts on “Masalah Hidup”

  1. Di setiap sisi kehidupan, ada ilmu dan pembelajaran. Dari “sekedar” be a good listener, bisa mendapatkan pembelajaran baru dan insya ALLAH semakin membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s