Jumatulis #2 Air Ketuban – Gadis Bisu

Menjelang aku menjadi ibu. Sudah 9 bulan seonggok darah daging ini bersemayam dalam rahimku. Berat aku membawanya, tapi penuh harap juga aku menantinya. Karena aku berharap anak ini akan lahir dengan selamat dan sempurna semua indera tubuhnya. Ada kekhawatiran tentang jabang bayi ini. Aku hanya seorang wanita buruh cuci yang tak punya cukup uang untuk membeli makanan bergizi. Untuk periksa rutin ke puskemas saja sudah payah kemampuanku. Belum lagi dengan kerja kasarku, nyaris terkuras tenaga setiap hari, hanya menyisakan lelah di sisa harinya. Aku khawatir bayiku terlahir tidak sehat, sama sepertiku.


Almarhumah ibuku dulu berkata, sebenarnya aku terlahir dengan kelengkapan indera. Ketika aku lahir, aku menangis berteriak untuk beberapa lama, sampai akhirnya aku terdiam. Gerak mulutku memang membuka tertutup, tapi tanpa suara yang senyaring sebelumnya. Hanya geraman serupa igauan yang lirih. Saat itulah aku divonis dengan label bisu.

Beberapa orang yang dikenal sebagai orang pintar mengatakan bahwa ini akibat air ketuban yang tertelan. Air itu yang mematikan suara hidupku, meninggalkan sunyi tanpa kemampuan berkata. Dengan kekuranganku ini, aku tidak bisa menjalani hidup senormal anak yang lain. Sejak sekolah dasar, bahkan sejak masa bermainku, aku telah terpisah dengan anak-anak yang lain. Yang dapat berbicara, berteriak riang dan memohon manja pada orang tuanya. Meninggalkan aku sendiri dengan kesendirian dan keanehan caraku untuk berkomunikasi.

Tapi orang tuaku, ayah ibuku bisa menerimaku. Dengan segala kekurangan, mereka mengasihiku. Aku menjadi satu-satunya anak mereka, oleh karena itu mereka fokus sekali untuk perkembanganku. Walau cuma bersekolah di SLB, aku berprestasi. Walau ayahku hanya satpam sewaan dan ibuku tukang cuci suruhan, aku bisa mendapatkan predikat terpuji di sekolah. Bahkan aku mendapat rekomendasi untuk melanjutkan ke SMA yang sama dengan teman-teman yang sehat dan sempurna kelima inderanya.

Bahagia sekali rasanya ketika itu, tanpa aku menyadari sedikitpun bahwa ayah sedang sakit. Tanpa mau memberitahu ibu dan aku sama sekali. Beliau tetap memaksa bekerja seperti biasa, bahkan lebih keras untuk persiapan aku masuk SMA. Hingga beliau limbung dan terjatuh dari sepeda kayuhnya, aku tersadar. Sebuah kesadaran yang terlambat, karena ayah langsung dikuburkan keesokan paginya.

Selang 1 bulan, ibuku mulai sakit-sakitan. Kami kehabisan uang untuk mengurus pemakaman ayah dan harus membiayai ritual tradisional kematian yang diwajibkan sesepuh kampung tapi tidak oleh agama itu. Ibuku harus bekerja keras untuk mengisi kembali harta di rumah yang kosong, juga untuk uang pendaftaran sekolahku. Kini, beliau terbaring lemah di tempat tidurnya.

Suatu malam, ada tetangga datang. Dia bilang sudah mengetahui masalah kami dan ingin membantu. Sesaat aku merasa aneh dengan sorot matanya. Sorot mata yang seakan ingin menerkamku dengan buasnya.

“Dik, saya tahu kesusahan kalian berdua. Saya datang membawa niat baik dan akan berusaha semampunya untuk membantu.”

Janjinya untuk membantu kami segera menghapus rasa curigaku. Apalagi ketika dia mulai mengeluarkan uang. Memang tidak seberapa, tapi cukup untuk menebus obat di puskesmas. Senang rasanya masih ada yang peduli pada kami. Aku memohon diri sejenak untuk membuatkan dia teh, sekedar rasa terimakasih untuk tetangga baik hati ini.

Yang tanpa kusadari, tetanggaku diam-diam mengikuti kebelakang. Merangkulku dengan kasar. Aku takut lalu mencoba berteriak hampa. Rontaanku sia-sia belaka. Percuma. Aku digagahi malam itu.


Jadilah aku hidup dengan menggantikan posisi ibuku sebagai tukang cuci. Buruh cuci dari juragan laundry di kota. Aku memperoleh pekerjaan ini karena selepas ibu meninggal, saat hadir di pemakaman, bosnya memintaku bekerja padanya. Butuh tenaga muda katanya. Kujalanilah kerja keras sampai larut, hingga sekarang.

Detik-detik kelahiran semakin dekat. Yang bisa kulakukan hanyalah berusaha makan teratur dan tepat waktu. Makan ala kadarnya, dengan porsi makan yang lebih banyak dari biasanya. Karena sekarang bukan hanya perut dalam tubuhku saja yang butuh makan. Tapi juga perut mungil bayiku. Aku tersenyum dan mengusap-usap perutku. Berpikir, bahwa akhirnya nanti ada yang menemaniku hidup, tak lagi sunyi.

“Aku belum tahu apakah kamu nanti akan menjadi anak lelaki yang gagah atau perempuan yang cantik. Ibu sudah tidak sabar melihat wujudmu, calon anakku.”


Berjalan di keramaian jalan, tiba-tiba terasa sakit yang amat sangat pada perutku. Muncul pula air bening merembes keluar membasahi rok. Aku lemas dan terjatuh. Samar-samar aku melihat beberapa orang yang ada disekitar segera menolong dan membawaku ke angkot terdekat. Mereka menjaga dan mengantarku ke klinik. Aku tersenyum lemah, berterimakasih karena akhirnya ada orang yang benar tulus pedulinya padaku. Beberapa bidan menyambutku lalu mengarahkan agar aku segera dibawa ke ruang bersalin. Payah sekali rasanya. Lebih payah dari kerja kasarku sebagai buruh cuci. Tersengal napasku berusaha mendorong anak ini keluar. Entah sudah berapa buliran keringatku yang menetes. Aku ingin segera melihat bayiku. Kudorong lagi lebih keras. Bidan dan dokter semakin menyemangatiku. Mereka berisik sekali padahal aku yang bersusah payah disini, pikirku. Sampai akhirnya aku merasa berhasil mendorongnya keluar dan ruangan bersalin itu mendadak sepi. Dokter dan bidan melihatku dengan pandangan sedih. Aku tak mengerti, aku terlalu lemas, aku pingsan seketika.

Nanti baru aku akan tahu kenapa dokter dan bidan melihatku dengan sedih saat itu. Air ketuban yang dulu merenggut suaraku adalah penyebabnya. Dulu suara hidupku yang dimatikannya. Tapi kini, air ketuban lebih memilih mematikan hidup anakku. Tertelan, dan kembali sunyi.

Iklan

2 thoughts on “Jumatulis #2 Air Ketuban – Gadis Bisu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s