Jumatulis #4 Sofa – Bersandar Kenangan

“Jika memang cinta seindah semestinya, mengapa harus ada duka?”

“Jika cinta berubah  menjadi duka, mengapa tak bisa lepas?”

Pria itu hanya duduk merenung. Pertanyaan  mencengkeram  kepalanya, terngiang berputar tak mau pergi.

“Harus kujawab dengan apa?” pikirnya bertanya

“Hatiku telah hancur sekedar untuk merasainya.”

Diseka air matanya yang berlinang, malu sebenarnya untuk mengakui. Bahwa laki-laki harus menangis karena cinta. Kembali dia terduduk di kursi sofa itu. Sofa yang empuk dan nyaman, dengan warna coklat yang lembut, bantalan dengan tebal yang sesuai, dan tempat yang cukup untuk diisi berdua, sungguh menawan. Tapi saat ini hanya ada dia, empuk tak dapat  ia rasakan, nyaman tak bisa ia nikmati. Hanya pedih dan nestapa yang tertinggal.


Julian, nama pria itu. Duka Julian bukan tanpa sebab, ada cerita cinta yang melatarbelakanginya. Tapi sayang bukan cerita cinta yang berakhir bahagia, tapi hanya duka yang pekat melekat. Delapan tahun dia hitung sebagai penanda lama hubungan dengan kekasihnya, Alena. Selama itu pula dia mencoba untuk bertahan, berusaha untuk menghidupkan, berdiri untuk melindungi cintanya. Hubungan rasa yang dia lalui sejak pertama kuliah, ketika perkenalan pertama dengan kekasihnya di halaman itu, disamping kantin biru kampusnya. Mata kekasihnya saat itu, bagai temaram  purnama yang mengunci hatinya, cantik dan membius. Sekejap pintas dia telah memutuskan bahwa makhluk yang ada di hadapannya, yang beradu pandang dengannya, adalah kekasih hidupnya.

Pendekatan dilakukan, rasa suka coba ditunjukkan. Dan layaknya ketertarikan yang berbalas, Sang Kekasih memaknai sama, cinta. Kisah mereka pun berhembus mengalun, -disertai ragam komentar kawan bahwa mereka pasangan serasi-, kisah mereka indah.

Masa kuliah dan cinta mereka bersamai dengan syahdunya, tanpa mereka ingat bahwa kelulusan dan melanjutkan hidup adalah batas kebersamaan. Julian melanjutkan hidup dengan bekerja di tempat lahirnya, kota kampusnya berada. Sementara Alena memilih merantau ke kota seberang dengan pulau berbeda. Berat memang untuk merasakan hubungan rasa yang terpisah jarak. Tapi Sang Pria meyakini cintanya pada Kekasih tak akan pudar. Rasa rindu keduanya pun seperti enggan menghilang, selalu pulih  memutih, untuk kemudian terwarnai kembali dengan rona-rona asmara.

Akhirnya tahun pun berbilang. Empat tahun sudah hubungan berjarak itu mereka lalui. Kadang bertemu badan, tapi lebih sering terpisah ruang. Kekasih menyambi hubungan mereka dengan hubungan yang lain. Mungkin rasa yang terwujud di hadapan adalah yang dicarinya. Yang hadir mendekatinya ketika dibutuhkan. Mengulurkan sayang ketika membutuhkan. Dengan Pria Lain yang sering ditemuinya di perantauan, Kekasih menemukan tambatan yang menentramkan. Apa lagi yang dicari wanita terhadap pria? Selain yang bisa selalu ada disisi menemani suka duka citanya. Hidup Alena keras, harus berjuang di pulau seberang untuk mencari penghidupan demi dirinya dan keluarga di kampung halaman. Hidup keluarganya memang tidak semapan Julian dan keluarganya. Sebenarnya memang ada kasta antara mereka. Sang Pria sedari awal memang sadar, bahwa Kekasih adalah jiwa mandiri yang pantang berpangku kasih pada dirinya. Dia wanita pejuang, kuliah untuk memperbaiki kasta sosialnya, bekerja untuk merubah hidup keluarganya. Karena itu, Sang Pria tidak bisa menolak ketika Kekasih ingin pergi untuk mencari penghidupan, berjarak darinya. Telah ditolaknya ajakan meminang Sang Pria dahulu demi hidup keluarganya.

Kejanggalan dalam hubungan mulai dirasa oleh Julian. Tanya bertanya pada Kekasih telah dilakukannya. Dengan tangis Alena menjelaskan, bahwa jarak mereka bukan hanya  sekedar jarak fisik tapi soal kasta. Tidak dipersoalkan diawal karena tertupi oleh kisah indah mereka dulu. Tapi sebenarnya mulai disadari ketika mereka harus menjalani hidup sebagai pribadi sendiri. Sang Pria menolak menyerah, mencoba berbagai aneka usaha untuk lebih mengerti, memperbaharui janjinya, untuk sehidup semati apapun masalahnya. Tapi apa daya jika akhirnya Kekasih memilih untuk berhenti. Rasa nyamannya telah beralih rupa. Dia hentikan rasa suka, sayang dan cintanya kepada Sang Pria untuk melanjutkan asmara dengan yang lain. Dia telah memilih Pria lain, yang menjadi tempat melaju dengan cinta barunya.

Kandas sudah.


“Oh, tapi tak bisa terus begini. Hidupku harus berlanjut!” sadarnya. Aku masih punya rasa cinta, aku masih bisa merasakan suka, dan rasa sayangku masih dapat terpancar.

Ya, Julian masih punya saluran lain untuk labuhan hatinya. Tidak sampai satu tahun berlalu sejak kejadian itu, keluarganya sudah menyiapkan Wanita pilihan untuknya, Aini namanya. Dengan derajat  kasta yang sama tingginya. Tidak ada masalah. Cantik rupawan dan cerdas memikat. Ini tentang wanita pilihan keluarganya, yang bukan sembarang pilihan untuk Sang Pria. Tidak ada alasan untuk menolak mencintainya. Bahkan acara pinangan sudah mereka selesaikan, tinggal menunggu datangnya masa resmi kawinan mereka.

“Mas” begitu Wanita memanggil.

“Ya sayang?”

“Jadi pindahankah kita kerumah baru? Aku sudah menunggu. Ingin segera kuisi rumah kita berdua dengan barang-barang kita. Aku sudah menyiapkan barang yang akan kubawa, telah kupilihi yang akan menemaniku di rumah kita, denganmu.”

“Ah iya benar, aku lupa untuk segera berbenah. Masih ada beberapa barang yang harus aku pilah. Temani aku ya” Jawab Julian. Saat itu dia juga berpikir. Memang ini saatnya berbenah, soal kenangan, soal masa depan. Ingin segera dia membawa pergi barang-barang di rumah kontrakannya untuk memulai hidup dan membuang kenangan  waktu bersama Alena yang berwujud beberapa benda disana.

Mereka memang telah disiapkan sebuah rumah untuk ditinggali. Keluarga mereka benar-benar berusaha untuk membuat rencana hubungan mereka sempurna. Sembari menunggu akad nikah dan pestanya, rumah dibangun dan ditata. Sebuah taman kecil di depan dan kolam ikan dibelakang. Warna hijau untuk rumah diharapkan memberi kesejukan orang yang menghuninya. Ruangan-ruangan rapi beserta perkakas telah menyertainya.

Segera bergegas Julian menuju rumah kontrakannya dengan Aini menemani. Dilihat dan dipilih benda di dalam kamarnya, menyaring untuk seperlunya saja. Beberapa buku, alat elektronik, poster dan perlengkapan khas pria telah dibawanya. Menengok keruang luar kamarnya, tv, kulkas dan peralatan dapur dipikir untuk diangkutnya pula. Tapi mendadak semangatnya hilang ketika melihat sesuatu. Sofa itu. Mengingatkannya kembali pada peristiwa lampau. Cukup lama terdiam. Merenungi lalu menghela napas.

“Apa perlu kubantu untuk mengangkat sofa itu mas? Aku cukup punya tenaga.” Aini menawarkan bantuan.

Julian menoleh, melihat Wanitanya, senyum  lirih dia tampakkan, dan menjawab.

“Tidak sayang, bukan butuh bantuan tenagamu, aku hanya perlu berhenti sejenak” Lalu kembali dia palingkan kepalanya kebawah, lesu sekarang.

Diam lagi, sekarang batin berkata. “Kurang apa Wanita pilihan keluarganya? Perilakunya selalu lembut, senyumnya menunjukkan penghargaan dan ketulusan, pelukannya memberikan dorongan dan pikirannya menghidupkan jalan. Apa? Apa?”

Batinnya telah berhenti berkata-kata. Ada yang menyeruak kini dalam hatinya.

“Dia hanya bukan Dia.”

“Dia bukan Alena yang dulu bersamaku, menikmati manisnya sari cinta di sofa itu.”

“Dia Sang Kekasih, yang berbagi indah cinta dan menikmati senja bersama disana, bukan Wanita ini.”

Galau yang Julian rasa memanggil ulang serpihan kenangan. Kenangan yang harusnya dilarang untuk hadir. Tapi apa daya, kenangan tidak terpatri pada kepala, tapi telah terpatri dalam pada hatinya. Menyusupkan getaran rindu, terbawa dengan aliran darah ke seluruh tubuh, menghadirkan kaku pada kesadarannya.

“Mas, kenapa?” Tanya Wanita mencoba membuyarkan lamunan. Dia segera tersadar. Tidak segera menjawab tanya Aini, dia mencoba mengumpulkan sadarnya, menimbang pikir.

“Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu.” akhirnya bersuara.

Segera Julian merengkuh tangan Aini, mengajaknya untuk mendekat. Dia mulai bercerita. Cerita tentang masa lalu kisahnya, kisah dengan Alena. Bertubi kata keluar dari mulut Julian bercerita. Aini mulai berkaca matanya, karena merasakan cinta yang masih membekas darinya untuk Alena. Cemburu dan kecewa pun timbul dari dirinya.

“Jadi apa? Selama 1 tahun ini aku mencintai orang yang hanya mencintai  kenangannya sendiri?!” Suara Aini  meninggi, jatuh deras airmatanya. “Aku  mencintaimu dengan tulus, aku meyakinimu adalah takdirku, aku pun mantap untuk mengisi hidup denganmu. Lalu seperti ini balasan rasamu padaku?.”

“Sayang, Aini. Aku tahu. Aku sadar kesalahanku. Maka aku menyerah untukmu. Tidak ingin mengkhianati rasamu padaku.” Julian menjawab dengan mata yang sudah sembap. Kini dia benar-benar sudah memutuskan posisi hatinya untuk Aini, sekaligus menjadi pengaku dosa kenangan yang tak bisa hilang.

Maka diikuti dengan derai tangis dan jerit kecewa, Aini mengucapkan selamat tinggal. Meninggalkan Julian yang mengangkat kepala untuk memandangnya pun tak mampu. Julian merasa dikhianati Alena, kini Aini terkhianati Julian. Lingkaran perih cinta yang seakan tak berhenti.

Julian kini sendiri. Dan dia kembali menduduki tempat itu. Bersandar merebah. Merenungi kembali pertanyaan tentang cinta dan duka. Di sofa itu, tempat biasa Sang Pria dan Kekasih melakoni asmara dan membuahkan kenangan. Sambil memandangi undangan pernikahan Kekasih dengan pria barunya, dia terpejam dan bergumam  ”Hanya ini yang tak bisa kulepas, tempat aku dan dia. Hanya ini yang tak bisa kulepas, tentang aku dan dia. Hanya dia, satu-satunya yang bisa mencuri cintaku.”

Iklan

4 thoughts on “Jumatulis #4 Sofa – Bersandar Kenangan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s