Jumatulis #7 Warga Kampung Kuburan

Alkisah di negeri kota Indonopolis, saat tengah malam sekumpulan remaja tanggung yang berjumlah 8 orang mengendap memasuki gudang pabrik olahan makanan di kota mereka. Kompleks gudang pabrik itu kira-kira seluas tiga lapangan sepak bola nasional negeri itu. Mereka menerobos melewati kawat pagar yang memang sudah terbuka, bekas aksi mereka tiga hari  yang lalu. Dara, pemimpin kumpulan memberi aba-aba untuk segera masuk. Dia berusaha menjaga agar proses “operasi penyusupan” mereka tetap senyap.

“Bergegaslah hai kalian para bebal, waktu kita tidak banyak” Dara berbisik dengan keras memerintah.

“Tenang Dara, jika kau terus pusingkan kami dengan waktu, kita malah akan kehilangan fokus karena terburu-buru.” Sahut Fajar, remaja pria tertua di kumpulan, sekaligus sebagai tangan kanan Dara.

“Huh yasudah terserah kalian saja. Tapi nanti kalau ada apa-apa jangan salahkan aku!”

Sejauh ini mereka berhasil memasuki kompleks pabrik, lalu berlanjut menuju gudang barang. Apa gerangan tujuan mereka? Ah coba tebak sendiri dengan segala prasangka buruk Anda. Alasan apa yang membuat sekumpulan remaja tanggung nan dekil seperti mereka, tengah malam datang mempertaruhkan keselamatan membobol keamanan kompleks pabrik yang pemiliknya tukang sekongkol dengan petinggi militer setempat? Yang mengendap menyusup seperti tikus got menghindari cahaya lampu jalan?

Apa boleh buat, Dara dan Fajar serta gerombolannya terpaksa melakukan kerja sampingan ini untuk mempertahankan hidup mereka dan keluarga di rumah. Sebagai kaum miskin papa kota, hidup mereka keras dan termajinalkan. Karena mereka miskin pula pendidikan terakhir yang bisa mereka kecap hanyalah setingkat SD. Mereka terpaksa diluluskan setelah dirasa cakap membaca dan berhitung. Tak ada belas kasih dari pemerintah, mereka masa bodoh. Bahkan sengaja memelihara kemiskinan dan kebodohan kaum marjinal ini karena para cukong juragan mereka butuh tenaga kuli murah yang siap diperas keringatnya di pabrik dan perusahaan.

“Ah kata siapa kami tidak memikirkan rakyat? Kami memikirkan mereka tiap saat. Demokrasi sekarang membuat kompetisi politik berjalan ketat. Jumlah partai dengan politikusnya bertambah membuat jumlah wong cilik di kota tidak pernah cukup. Kami pusing memikirkan rakyat tiap pemilu eksekutif dan legislatif. Kami pusing memikirkan muslihat apa lagi yang akan kami berikan pada mereka. Kami sibuk memikirkan cara menyiapkan amplop duit senilai sebungkus rongkok untuk mendapat suara mereka. Yang paling pusing adalah ketika para cukong kami mulai rewel setelah pemilu, merengek minta jatah proyek karena merasa berjasa untuk kemenangan pemilu kami. Pusing kan ketika kita harus mengotak-atik anggaran yang sebenarnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat menjadi proyek bancakaan para cukong kami yang serakah itu? Tentu, kami sangat peduli pada rakyat.”

Yang Anda baca diatas adalah racauan seorang pejabat, yang sedang mabuk di klub super eksklusif di utara kota, ditengah pelukan dayang-dayang langsing dari Uzbek. Tampak beban pikirannya menumpuk, entah karena nuraninya terjepit sebab sadar akibat perbuatannya kepada rakyat ataukah karena jiwanya sudah lelah karena selalu diteror dengan permintaan proyek dari cukongnya.

Di Indonopolis, rakyat kecil nan termajinalkan seperti Dara dan teman-temannya, bukanlah jenis warga yang dianggap ada eksistensinya. Pada panggung kehidupan Negeri Kota ini, kaum marjinal yang untuk membeli lauk ikan tongkol saja susah, terpaksa hidup di pemakaman kota. Rumah yang mereka tinggali adalah tempat kubur, dengan dinding dan atap seadanya, semacam kayu dan seng bekas bangunan.

Dara sebenarnya tidak harus menjalani hidup bagai pariah ini. Dia keturunan terhormat tuan tanah sekaligus tokoh agama kota ini. Tapi karena perbedaan politik kakeknya dengan penguasa Indonopolis di masa lalu, membuat keluarganya terusir dari rumah dan seluruh hartanya dirampas oleh rezim Orde Zaman Enak. Ketika itu Sunarto, pimpinan Orde Zaman Enak berencana membangun ekonomi kota dengan mengundang cukong dan bromocorah dari kota seberang untuk membuka banyak pabrik. Masalahnya adalah Indonopolis dimasa lalu kawasannya didominasi area pertanian rakyat. Akhirnya Sunarto yang begitu termotivasi dengan gerojogan modal para cukong melakukan penggusuran dan pemindahan paksa warga yang sawah dan rumahnya akan dijadikan kompleks pabrik. Kakek Dara yang menjadi muara keluh kesah warga tergusur, didorong oleh rasa keadilan akan keyakinan yang dipeluknya, langsung bertindak dan mengadakan aksi protes. Berkumpul 1.000 warga berbaris tertib memblokir akses jalan menuju kampung mereka. Membuat rombongan calon perampas rumah dan tanah warga tertahan dengan mesin-mesin konstruksi yang mereka bawa. Kakek Dara dengan sopan santun pribumi kampung hanya meminta kesempatan untuk bermusyawarah kembali dengan para cukong dan bromocorahnya. Tapi apa yang terjadi berikutnya adalah: Tuan cukong yang marah besar karena ada yang mengganggu ejakulasi ketamakannya, dan dengan penuh amarah “memesan” ratusan brigade motor polisi dan pasukan komando militer untuk segera datang dan melibas barisan damai warga kampung ini. Gema tembakan dan teriakan datang menghiasi hari itu. Berbalas pucat pasi dan panik warga. Takut dan tak berdaya, tangis putus asa karena baru menyadari bahwa mereka tak punya pengayom. Terusirlah para pemilik sah rumah dan tanah harus pasrah dipindahkan dengan dalih “migrasi” ke daerah lain dengan bekal seadanya. Memulai kembali dalam minus kehidupan dan boikot pemerintah.

Kepulangan Dara disambut warga kampung kuburan dengan gembira. Segera mereka berebut mengambil jatah “harta rampasan” malam ini. Bersyukur karena ada yang bisa mereka dapatkan untuk mengganjal perut dan melanjutkan hidup. Bersyukur karena anak-anak mereka akan berhenti merengek karena lapar. Bersyukur karena mereka bisa ikut merasakan kemakmuran kota. Dara dan teman-temannya tampak senang, tapi Fajar menunjukkan ekspresi bersalah.

“Dara menurutku yang kita lakukan selama ini salah. Tidak seharusnya kita mencuri. Seperti kata Ustadz Hamka, niat baik yang dilakukan dengan cara haram itu sama saja dengan melakukan dosa!”

“Apa katamu? Lalu kau bilang kita harus hidup dan makan dengan apa hah! Kau pikir hanya dengan mendengar khotbah orang bisa kenyang!”

“Terserah Dara. Aku berhenti dan sudah selesai dengan ini semua. Keluargaku dan beberapa orang lagi sudah memutuskan akan pindah dari kota ini, mencoba peruntungan ke kota lain. Kami ingin hidup dengan cara halal.”

“Kau gila! Memilih menyerah dan meninggalkan kota tempat kau lahir, tumpah darahmu sendiri? Pengecut!”

“Bukan pengecut, tapi realistis. Kami tidak ingin hidup sudah miskin ditambah gelimang dosa. Lagipula ini sudah kedua kalinya kita merampok pabrik itu dalam bulan ini. Mereka tidak akan bersabar lagi. Tinggal menunggu waktu mereka akan menghantam kita. Ingat ada beking jendral di pabrik itu.”

“Sudahlah jangan berpkir macam-macam, Fajar. Kalaulah pabrik itu benar punya beking pasti mereka akan bertindak saat aksi pertama kita. tapi sampai saat ini, nyatanya kita aman.”

Debat Dara dan Fajar diakhiri dengan perpisahan sekelompok warga yang memilih keluar dari kampung kuburan. Mereka telah menyerah untuk bertahan hidup di kota itu. Mereka merasa tidak akan diperhatikan lagi oleh pemerintah, seperti kumpulan hewan kurban menunggu disembelih saja, pasrah. Karena terlalu lama pasrah hanya menimbulkan pesimisme, maka Fajar berontak. Dia ingin melihat ke arah yang baru, tempat memulai hidup yang baru. Yang lepas dari tekanan pemerintah korup dan pemerasan pengusaha serakah. Sebuah dunia baru tempat memburu harapan baru. Tapi, Dara yang dilatarbelakangi sejarah keluarga menolak usul Fajar dan meneruskan tradisi kampung kuburan untuk mencuri rampok sedikit kekayaan para cukong di pabrik-pabrik harta mereka.

Dara melepas kepergian Fajar dan sebagian warga kampungnya dengan rasa sedih yang bercampur. Merasa ditinggalkan. Merasa dikhianati. Rapuh kerena ditinggal para penyokong perjuangan. Tapi rasa yang dialami Dara tidak akan berlangsung lama, karena esok pagi, saat fajar muda menyingsing, puluhan buldozer dan ratusan tentara bersenjata lengkap dan berpuluru tajam akan datang menerjang mereka. Membersihkan dekil dan keterbelakangan kota yang tersisa. Dengan tandas dan tanpa ampun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s