Jumatulis #8 Harapan Memilih

Setelah berbulan-bulan mencari, akhirnya aku menemukan tempat menetap. Dari semua tempat di dunia, tak pernah terlintas dalam benak sedikitpun bahwa aku akan kemari. Jujur, aku sendiri ngeri dengan segala informasi mengenai negeri ini, yang sering menjadi headline tv berita. Kerusuhan, kanibalisme, perusakan alam, dan korupsi yang membuat gambaran bahwa tempat ini kacau balau total.

Tapi ketika kuperhatikan sekali lagi, ada beberapa hal aneh. Masih terlihat beberapa rakyatnya tersenyum. Senyum manis yang seakan menunjukkan kebersyukuran. Anak-anak manis tersenyum dengan riang. Orang-orang tua tersenyum dengan ikhlas. Para dewasanya tersenyum dengan penuh gairah hidup. Sungguh aneh.

Kenapa negeri yang oleh berbagai surat kabar negara-negara bule dikatakan sebagai “negara gagal” rakyatnya masih bisa tersenyum? Mungkin ada masalah dengan urat-urat syaraf mereka. Hal yang wajar terjadi karena mereka hidup di lingkungan tak beradab seperti itu. Atau mungkin otak mereka tidak bisa memproses respons dengan baik lagi, karena perih perut mereka akibat kelaparan.

Sebelumnya, aku lebih tertarik dengan suatu tempat yang bernama Filipina. Tak jauh letaknya dari “negara terancam gagal” itu. Negara bekas jajahan negara adikuasa planet ini. Yang gejala kemiskinannya bisa kita lihat begitu pintu rumah dibuka. Kumuh dan kurus. Bahkan di Manila, ibukota negara, Istana Negara-nya pun dikepung pemukiman miskin. Yang bisa dibanggakan hanyalah jumlah tenaga melacur mereka adalah 5 besar terbanyak di benua.

Sempat pula nama Palestina yang terbayang. Sering kulihat sebagian warga “negeri gagal” itu berdiri gagah beraksi mendukung kemerdekaan Palestina, yang sedang terjepit angkara murka Kaum Yang Terpilih. Tank-tank baja mereka lawan dengan lemparan kerikil. Rudal-rudal menggelegar mereka lawan dengan batu ketapel. Semacam perang pasukan purba primitif melawan pasukan perang bintang. Sangat kontras.

Tapi langsung kuurungkan niatku pada 2 tempat itu. Beberapa lama setelah keterbelakangan dan kekacauan yang melanda, mereka berbenah maju. Filipina kini menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan tenggara. Rakyatnya yang bekerja merantau ke tempat lain juga semakin diakui martabatnya. Negara ini berkembang pesat melampaui si “negara gagal”.

Sedangkan Palestina. Pembangunan dan pertumbuhan ekonominya tak bisa diandalkan. Tapi keteguhan hati mereka melawan kezaliman semakin presisi. Beberapa golongan yang sebelumnya berjuang terpisah bahkan kini kabarnya mulai menyatu. Mereka memaafkan sesama untuk berjuang bersama. Konsistensi yang menakjubkan.

Bagaimana dengan “negeri terancam gagal”? Sepintas tercatat kemajuan kesejahteraan di kertas. Sepintas nampak keamanan dan damai di sesamanya. Tapi coba tengok lebih dalam. Yang sepintas-sepintas itu artifisial. Rapuh. Wali Negaranya seakan sedang melakukan dosa besar.  Mereka memiliki kuasa dan kesempatan untuk memperbaiki, tapi mereka malah melakukan pembiaran. Abai. Hal inilah yang membuatku memutuskan bahwa aku akan menetap hidup disini, dengan keahlian meracik makan yang akan menjadi matapencaharianku. Rupa-rupa makanan aku bisa membuatnya, tapi kegemaran membuat ragam manisan yang menjadi fokusku. Aku akan berkeliling di negeri ini, dari ujung timur ke ujung baratnya. Menemui rakyat jelata yang baik hatinya. Menawarkan cookie keberuntungan, cupcakes keyakinan diri, lolipop kemandirian dan ice cream penyejuk hati. Mereka cukup membayar dengan senyuman untuk setiap daganganku yang dibeli. Jika yang mereka bayarkan adalah senyum termanis yang dipunya, akan aku tambahi dengan bonus senyum semangat untuk mereka.

Oh iya, sebelumnya perkenalkan, namaku Harapan 🙂

Iklan

3 thoughts on “Jumatulis #8 Harapan Memilih”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s