Jumatulis #10 Pemandu Jalan

Bayangan aneh terbentang di mata. Aliran pekat menghadang pandangan.

“Darimana kabut ini datang?”

Aku menoleh kebelakang ke arah suara berasal. Anak perempuan kecil bergaun merah. Tangan kirinya memegang kipas kertas kecil berwarna coklat. Wajahnya kebingungan.

“Apa kamu takut Nak?”

Dia mengangguk. Kini wajahnya berganti sedih.

“Kamu sendirian disini?”

Aku berjalan kearahnya, hatiku berkata aku harus melindunginya. Kugandeng tangan dan kuusap-usap rambutnya, berusaha memberi pesan bahwa ada aku bersamanya sekarang.

“Ada jalan di depan! Mungkinkah kita bisa keluar melalui jalan itu?”

Aku terkejut mendengarnya. Kuarahkan mataku kedepan, mencari jalan yang dia katakan. Ada.

Segera kami berjalan melaluinya. Sedikit lega terasa karena sebelumnya hanya ada kabut. Dimana-mana kabut. Tapi aku juga belum tahu kemana arah jalan ini akan membawa kami.

“Aku pikir kita sedang berada di gunung. Ini pertama kalinya aku pergi ke gunung. Aku ingin melihat bunga warna-warni, tapi ternyata tak ada yang kutemui disini.”

Ah, dia jadi lebih sedih dari sebelumnya.

“Tenang Nak. Kelihatannya jalan kita masih panjang, masih ada kemungkinan mendapatkan bunga. Nanti Om petikan beberapa untukmu.”

“Om janji?”

“Iya, tentu” kujawab dengan senyum.

Nah, sekarang dia kelihatan lebih riang. Walau aku juga tidak yakin dengan janjiku. Terus terang aku tidak ingat bagaimana bisa berada disini. Dengan siapa aku bisa sampai disini. Atau sedang apa aku disini. Atau juga, siapa anak yang bersamaku ini.

Jalan yang kami lewati lumayan berliku. Kondisi jalannya juga tidak selalu mulus. Kadang turun, tapi sering pula naik. Kadang kering, tapi banyak juga tanah becek. Kadang bagus, tapi lebih sering berlubang dan berkerikil tajam.

Hei baru kusadari sesuatu. Anak ini tidak memakai alas kaki sedikitpun. Apa dia tidak merasa sakit? Apa dia tidak merasa ngilu di kakinya? Apa dia tidak lelah?

“Nak, apa kamu tidak apa-apa?”

Aku menyobek kain dari baju dan celana. Segera kupakaikan, membungkus kaki mungil anak ini. Semoga bisa untuk melindunginya.

Dia tersenyum, manis sekali dengan beberapa gigi ompongnya kelihatan.

“Terimakasih Om.”

Aku menggendongnya, tidak tega melihat gadis kecil ini menderita berjalan bersamaku. Dia memeluk punggungku erat.

“Kalau kamu merasa capek, bilang ke Om ya.”

Kami melanjutkan perjalanan. Kabut yang pekat terlihat semakin menipis. Apa kami semakin dekat dengan jalan keluar dari gunung ini?

Di depan samar-samar kulihat ada gapura. Aku senang. Pasti itu pintu keluar dari gunung ini. Aku berlari menuju kesana.

“Nak, sebentar lagi kita sampai!” teriakku girang.

Anak itu hanya mengangguk dan tersenyum.

Sampai juga disini. Gapura yang besar. Ada kaligrafi arab yang menghiasi. Aku tak paham artinya.

“Om, itu apa?”

Telunjuk mungilnya menunjuk kearah kananku. Ada sebuah meja kecil panjang tanpa laci. Ada buku berwarna hitam diatasnya. Dengan hati-hati kuturunkan anak ini.

“Sebentar ya, Om lihat dulu.”

Dia mengangguk dengan lucu.

Buku hitam ini bersampul polos. Tanpa gambar dan judul. Kubuka halaman pertamanya, tertulis:

“SELAMAT DATANG DI KEABADIAN”

Kurasakan pundak sebelah kananku ditepuk. Si gadis kecil. Seluruh tubuhnya kini bersinar. Menyilaukan mata. Sambil memicing karena silaunya, kudengar dia.

“Gunung tadi adalah wujud salah dan dosamu. Berliku dan rusak jalannya adalah refleksi perbuatanmu pada orang-orang disekitarmu. Sedangkan aku adalah amal baikmu. Sekarang, kau bisa melanjutkan perjalanan. Menuju hakikat. Menemui segala jawaban.”

Aku mengangguk, aku mengerti. Aku pun melangkahkan kakiku menuju gapura. Berharap bahwa perjalananku kali ini akan membawaku ke tempat yang kuinginkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s