Jumatulis #11 Janji Kakak (Bagian 1)

“Tindas dan bunuh saja mereka kaum inlander itu! Sisakan hanya perempuan dan anak-anak mereka. Kita beri tekanan penghabisan pada pemberontak sekarang, karena kita sudah bosan dengan gangguan mereka! Hahaha!” perintah Kapten Van Borg sambil tertawa.

Dengan gugup aku mulai menarik pelatuk senapan, mengarahkan pada para pribumi yang sedang berlarian ketakutan. Aku memejamkan mata. Dan beruntun kemudian suara tembakan dan bau mesiu. Menyalak dan meletus tanpa ampun mengenai manusia yang ada di depan moncongnya. Hari ini, nuraniku mati.

Dua tahun yang lalu aku mendaftar pada angkatan laut Kerajan Belanda. Semangat muda yang membawaku kemari. Semangat muda yang ingin mengetahui luas dunia, di luar wilayah negeri kami yang mungil. Kami ditugaskan untuk mengawal ekspedisi kapal dagang kerajaan yang bertujuan untuk mencari sumber rempah di timur jauh, membeli rempah langsung dari sumbernya untuk mendapatkan harga termurah kemudian kami jual lagi di Eropa. Tapi ketika kami menemukan negeri kepulauan indah ini, para petinggi ekspedisi merubah tujuannya. Mungkin mereka silap ketika melihat keramahan penduduknya kepada orang asing yang singgah, pada kesuburan tanahnya, dan pada sifat gampang percaya rakyat dan rajanya. Senyum persahabatan para diplomat kami berganti menjadi senyum culas menaklukkan. Dan dengan memberi upeti beberapa Gulden saja, kami sudah mendapat dukungan dari beberapa adipati dan syahbandar setempat. Negeri ini akan mudah dikuasai, begitu pikir kami.

Ah bukan masalahku, bukan masalah tentang apa yang kami lakukan disini. Kami mencari kekayaan untuk dibawa pulang, memberi makan orang-orang di rumah kami. Bayanganku kembali ke rumah sederhana kami. Rumah pertanian yang sudah keluarga kami tinggali selama 3 generasi. Dengan kincir angin besar yang memisahkan ladang dengan sungai kecil di dekat rumah. Adik-adik kesayanganku; si kembar Sanne dan Sophie, si tengah Jayden dan si bungsu Lars. Sedangkan ayahku meninggal tidak lama setelah kelahiran Lars. Demi mereka dan ibuku pula aku membulatkan tekad mengikuti ekspedisi menuju pulau harta karun ini.

Tidak sampai setengah jam, barisan mayat telah menumpuk. Mayat-mayat pribumi tanah ini. Walaupun perintahnya adalah bunuh kaum prianya, korban dari perempuan dan anak-anak tidak terhindarkan. Kami menang tanpa perlawanan karena yang kami serang adalah perkampungan sipil. Mereka yang disebut “pemberontak” oleh Kapten Van Borg adalah para petani palawija yang menolak untuk menjual hasil panennya kepada kami.

Tertinggalah wajah-wajah kuyu para perempuan dan anak-anak, para janda dan yatim piatu. Kapten Van Borg menyuruh kami membariskan mereka. Dia sendiri tampak mengamat-amati barisan perempuan, seperti sedang memilih sayuran segar di pasar. Aku tidak suka caranya memandang perempuan itu, perempuan muda itu. Bisa kubaca dari gerik mata dan seringai senyumnya bahwa kepala dan hatinya telah dipenuhi dengan niatan busuk. Perempuan muda yang diincarnya itu kira-kira berusia belasan tahun, usia yang sama dengan Sanne dan Sophie, adik perempuan kembarku. Dan sejenak, pikiranku kembali pulang ke Belanda, kampung halamanku, dua tahun yang lalu, setelah pengumuman kelulusan dari akademi kerajaan.

Ketika aku sedang bermain dengan Sanne di ladang pertanian keluarga kami. Sanne sebagai anak kedua dalam keluarga, dan kuanggap sebagai wakilku untuk mengatur adik-adik yang lain dalam membantu mengurus ladang dan peternakan adalah adik yang paling dekat denganku sebagai anak sulung. Ketika kami sudah lelah bermain, kami biasanya tiduran di halaman rumput di dekat kincir angin desa. Dia merebahkan kepalanya di perutku.

“Pieter, benarkah nanti kau harus membunuh orang?”

Aku terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba darinya ini.

“Jika terpaksa, iya. Tapi hanya orang-orang jahat saja. Lagipula, tugasku adalah mengawal ekspedisi dagang Hindia Timur, bukan ekspedisi penaklukan. Aku akan lebih banyak berhadapan dengan perompak, merekalah yang akan kuperangi!”

Sanne tersenyum mendengar jawabanku.

“Baiklah Pieter Sang Tentara Kerajaan. Berjanjilah bahwa kau hanya akan melukai orang-orang jahat saja, dan orang-orang baik sepertiku, kau harus berjanji untuk melindunginya!”

“Tunggu. Katamu orang baik sepertimu? Hahaha!”

Dia menekuk mulutnya dengan lucu, tanda dia sedang kesal.

“Hu’uh. Aku kan adik kesayanganmu. Berarti aku orang baik dong.”

Aku tertawa lebih keras, lalu memeluknya.

“Tentu, kau adalah Sanne, adik kesayangan Pieter Sang Tentara Kerajaan. Tapi berjanjilah, jadi anak baik selama aku pergi, jaga ibu dan adik-adik kita!”

Dan di depan mataku sekarang, tampak Van Borg menarik paksa tangan perempuan muda itu, menyeretnya ke gubuk penduduk di dekatnya. Perempuan itu hanya bisa berteriak pasrah, tenaganya terlalu kecil jika dibandingkan dengan tenaga Kapten Van borg, perwira Angkatan Laut Kerajaan yang terhormat. Rekan prajurit yang lain hanya bisa menundukkan kepalanya, beberapa segera memalingkan mukanya menghindar untuk melihat kejadian ini. Mereka tahu bahwa perbuatan yang akan kapten mereka lakukan akan melanggar semangat gospel yang kami miliki. Tapi kami semua berada di bawah komandonya sekarang. Tapi aku tak tahan. Nuraniku meronta. Tangan yang telah berlumuran darah penduduk pribumi tak berdosa ini bergerak cepat mengisi mesiu di senapan. Mengarahkan dan menarik pelatuknya.

Dar!

Aku menembak kapten kurang ajar itu tepat di dahinya. Dia tewas seketika. Beberapa teman prajurit berteriak kencang sambil menyumpah serapahiku. Sedangkan si perempuan menjerit histeris karena darah kapten muncrat melumuri tubuhnya. Aku hendak menghampirinya ketika tiba-tiba…

Dhum! Dhum! Dhum!

Tembakan meriam, dan diarahkan kesini. Siapa?

“Seraaanggggg!”

Pekikan para pemberontak bersenjata pribumi. Mereka menyerang disaat kami lengah seperti ini. Penduduk yang ditawan terpencar dari barisannya dan berlari melarikan diri. Para prajurit banyak yang terluka akibat tembakan meriam itu. Mereka berhasil mengacaukan formasi bertahan kami.

“Bentuk ulang formasi! Prajurit! Berbaris dan siapkan pertahanan! Letnan Coen berteriak memerintah. Tapi terlambat, karena kami terlalu fokus pada para tawanan dan harta rampasan. Sama sekali tidak menduga akan sebuah serangan balik sekalipun.

Dhum!

Tembakan meriam lagi. Aku segera tiarap kali ini. Mengisi mesiu kembali dan mencoba mengenali sasaran tembak. Tapi sedetik kemudian, kepalaku dihantam dengan keras. Aku linglung, pandangan berputar. Benda apa yang menghantamku? Aku mencoba memperjelas pandangan.

Mati kau kompeni! Mati kau!

Seorang pemuda, dengan amarah luar biasa yang terlihat dari pancaran matanya, menikamku dengan bambu yang telah diruncingkan. Tepat menembus dadaku. Beberapa orang lagi datang, ikut menambahkan tikaman pada jasadku. Mereka menusuk-nusukkan bambu runcing dengan memaki berkali-kali.

“Mati kau kompeni jahat!”

Tunggu, tunggu.

“Mati kau kompeni jahat!”

“Tunggu, tunggu.”

Aku bukan kompeni, aku Pieter Sang Tentara Kerajaan. Aku bukan orang jahat, aku seorang kakak yang baik. Yang memiliki Sanne, Sophie, Jayden dan Lars yang menganggapku sebagai kakak kesayangan mereka. Aku bukan orang jahat.

“Mati kau!”

Pemuda penuh amarah itu kini menikam kepalaku. Dan ini adalah tikaman terakhir yang benar-benar melepas roh-ku dari jasadnya.

Sanne, kakak akan pulang sekarang…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s