Jumatulis #12 Pemilu (Pemilihan Lurah)

Keringat menetes deras sekali dari dahi Pak Bejo. Panas terik, siang yang panas seakan membakar ubun-ubunnya. Tapi tanah lumpur sawah yang dia pijak saat ini mampu sedikit mendinginkan. Kemarau tahun ini, selain membuat panas kulit juga membuat panas kepala dan hati. Pemilihan lurah yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini membuat pusing warga desa Ademayem. Masing-masing calon lurah,-cuma ada 2 calon kali ini- menjanjikan banyak harapan kepada mereka. Seakan ingin mengubah kehidupan mereka menjadi kehidupan hingar bingar bak kisah sinetron di tv. Padahal mungkin, Pak Bejo dan warga desa yang lain lebih memilih mendengar suara kicauan burung daripada mendengar kicauan kampanye mereka. Sisi baiknya, para warga panen sembako gratis dari para calon lurah. Kehidupan desa berlanjut sampai malam menjelang melingkupi desa Ademayem.

Malam ini Pak Samiran memulai jagongan politik  di pos ronda desa, beberapa warga sedang berkumpul.

“Sudah, mari kita pilih Pak Widoko saja. Lebih merakyat, sering blusukan ke rumah warga, gayanya sama kayak kita. Pokoknya Pak Widoko adalah kita deh.”

 “Jangan lah. Pak Widoko gak punya pawakan lurah. Masa lurah klemar klemer gitu? Mending kita pilih Pak Pranowo. Orangnya pinter, gagah dan tegas.” Pak Bejo menimpali.

Kali ini, Mbah Tejo selaku orang yang dituakan di desa nimbrung bicara.

“Heh gini ya le. Si Widoko itu jelmaan Petruk. Kemana-mana suka mbanyol, pringas-pringis. Nanti seperti Petruk dadi ratu, malah bubrah desa kita. Nah kalau Si Pranowo itu, bener dia pinter, sekolahnya di kota lagi. Tapi ilmunya ilmu kota, sedangkan masalah orang kota dengan orang desa itu banyak bedanya. Belum lagi dia kesannya garang gitu, anak-anak kita apa pada gak takut nanti?”

“Terus kita pilih siapa Mbah?”

“Kalau aku sih tetap milih Pak Bambang. Beliau punya sosok seorang Yudhistira. Kalem, pemaaf dan bijaksana. 2 calon yang ada sekarang ini sama sekali aku gak sreg.

“Lho tapi mbah, Pak Bambang kan sudah 2 periode jadi lurah, sudah tidak bisa nyalon lagi. Menurut Pak Tulus, Ketua Komisi Pemilihan Lurah kemarin waktu sosialisasi nomer urut, peraturan 2 periode itu dibuat agar ada regenerasi kepemimpinan di desa kita. Ngasih kesempatan ke yang lebih muda gitu.” Kata Paijo, Ketua Karang Taruna desa.

“Ealah, gitu tho. Yowis, aku netral saja. Eh ayo dulur, kita lanjutkan main remi-nya. Rasah serius mikir politik, ndak kenthir. Mikir uripmu dhewe ora jegok kok.”

Akhirnya kehidupan di desa Ademayem berlanjut seperti biasa. Warga tetap rukun, guyub dan ikhlas dengan kehidupannya. Menyisakan Pranowo dan Widoko yang pusing memikirkan nasib mereka sendiri di pemilu desa nanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s