Jumatulis #13 Senja di Pulau Tidung

Ketika Mang Asep –tour guide Pulau Tidung yang kami sewa- menjelaskan pada kami tentang Jembatan Cinta,  aku malah membayangkan berupa-rupa jenis makhluk hidup yang ada di dalam laut; ikan, rumput laut, plankton dan sebagainya. Mereka berbagi tempat untuk hidup dalam terumbu karang. Begitu harmoni dalam warna-warni kehidupan. Dan diversifikasi dari olahan laut, termasuk air laut, dapat manusia manfaatkan seluruhnya.

“Hei Patih, kamu sedang ngelamun apa?” Rasti menepuk bahuku.

“Oh. Eh. Ehehehe, enggak kok Ras.”

Aduh, Tuhan memang Maha Adil. Dia menciptakan keindahan di laut, juga menciptakan indah di bumi. Untukku, indah yang mewujud di bumi itu Rasti.

“Heh malah ngelamun lagi!”

“Ah iya Rasti, ada apa?”

 “Mau nemenin aku kesana gak? Kita ke Pulau Tidung Kecil yuk.”

“Hah? Ngapain? Kata mang asep gak ada apa-apa disana. Jembatannya sudah pada bolong-bolong lagi, ngeri ah. Lagian, kalaupun ada orang kesana, palingan turis iseng. If you know what I mean hehehe.”

“Ihh, apaan sih! Yaudah aku pergi sama Lita aja.”

Ya, hari ini kami beserta rombongan asisten mahasiswa berlibur ke Pulau Tidung. Pulau yang menjadi bagian dari Kepulauan Seribu, sebelah utara Jakarta daratan. Dalam rangka libur semester, kami berlibur untuk sejenak melepas penat setelah 1 semester penuh sibuk mengurusi tugas dan ujian kuliah, juga mengajar mahasiswa. Karena sudah bosan ke Puncak atau Bandung, maka kami memilih kesini. Pulau yang damai, warganya yang ramah dan bebas polusi (sampai hari kedua, aku belum menjumpai mobil satupun disini. Sepeda motor pun jarang!) berhasil menentramkanku. Aku menjadi lebih mantap untuk menjalankan ‘misi rahasia’.

 Rasti adalah teman sesama asisten mahasiswa. Kira-kira tingginya setinggi pundakku. Untuk hal akademis, dia jauh lebih pintar dariku. Dia masih tercatat sebagai 3 besar mahasiswa dengan IPK tertinggi di angkatan, yang artinya dia berpotensi menjadi mahasiswa terbaik saat wisuda nanti sedangkan aku, cuma pemegang IPK 3 koma nol sekian. Oh, gawat. Dan aku sedang jatuh cinta padanya.

Kulihat Rasti dan Lita sudah berjalan kembali dari Pulau Tidung Kecil. Nah saatnya untuk tahap awal misi rahasia. Aku segera menyiapkan sepeda dengan boncengan yang sudah kupesan dan membeli es potong rasa cokelat.

“Hai Lita, boleh pinjam Rasti-nya sebentar?”

  “Wah ada apa nih pinjem-pinjem anak orang. Bayar dong masa pinjem mulu! Haha.”

“Yaampun, asisten junior kok berani malak seniornya.” Aku merangkul dan menjitak Lita.

“Aduh ampun Kak. Hehe.”

 “Eh kenapa Patih?”

“Rasti, temenin aku yuk ke pantai sebelah barat, aku boncengin.”

“Gak mau ah, tadi giliran aku minta kamu nemenin gak mau.”

Langsung aku tawarkan es potong cokelat yang aku beli tadi.

“Yaudah, maaf. Nih sogokan buat kamu.”

Rasti langsung mengambil es krim yang aku tawarkan, dan sudah duduk manis di boncengan. Aku cuma bisa tersenyum melihat tingkahnya. Aku mulai mengayuh sepeda.

“Kak Patih, balikin Kak Rasti dengan utuh ya!” kata Lita setengah berteriak.

 “Gak janji ya Lit!” sahutku.

 Rasti mencubit pinggangku.

“Ngapain ke pantai barat?”

“Menikmati senja, disana lebih bagus view-nya kata Mang Asep.”

Menaiki sepeda kayuh berdua bersamanya, aku merasa bagai Sukarno yang sedang membonceng Ibu Fatmawati. Bedanya, Sukarno orangnya gagah sedangkan aku kerempeng begini. Kami mulai melewati lapangan rumput ilalang, yang jalannya tidak begitu bagus. Rasti semakin erat melingkarkan tangannya pada punggungku.

“Patih, kamu gak keberatan kan bonceng aku?”

“Enggak kok, aku udah biasa bawa karung beras di sepeda, belanjaan Ibuku. Hehe.”

“Hih, maksud kamu apa.”

Biasanya orang jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi aku beda. Ketika aku pertama melihatnya rasanya biasa. Dia memang pendiam sekali awalnya. Saat briefing rutin asisten pun dia tidak pernah bertanya, cuma fokus pada materi kelas yang dibagikan. Sampai saat ada materi yang aku kurang jelas dan bertanya padanya yang saat itu sedang duduk disebelahku. Aku jatuh cinta dengan suara yang keluar dari mulutnya. Cara dia berkata-kata itu sangat menggemaskan menurutku. Agak cadel, tapi kalem. Terlebih saat aku menggoda lalu dia tersenyum dan tertawa, tampak lebih jelas sisi indahnya yang tersembunyi dalam diam. Aku jatuh cinta padanya.

Sampai akhirnya kami tiba di pantai barat Pulau Tidung. Ternyata sedang sepi disini. Kami duduk di batang pohon tua. Diam dan menikmati senja. Matahari semakin sempurna tenggelam, untuk malam datang mengganti.

“Rasti, bagaimana menurut kamu pemandangan disini?”

“Bagus.”

“Hmm, masa hanya sekedar ‘bagus’ saja?”

“Iya, menurut aku pemandangannya cantik.”

“iya cantik, seperti kamu Rasti.”

“Maksudnya?” tanya Rasti dengan tersipu. Tampak pipinya merona.

“Ras, aku datang kesini bukan cuma buat berlibur. Aku punya maksud lain, yaitu kamu. Kamu yang sudah membuatku aku selama 1 semester ini pusing. Bertambah pusingku karena ada kamu ditiap tugas kuliah dan tugas mengajarku. aku suka sama kamu. Please, kamu tanggung jawab ya?”

“Lah kok aku yang harus tanggung jawab.” Kini dia mengalihkan pandangannya ke bawah, sambil tersenyum.

“Iya dong tanggung jawab. Kamu harus jadian sama aku.”

“Eh, tukang maksa!” Dengan cadel dan senyumnya yang khas, dia tampak manis sekali.

“Jadi, mau kan jadian sama aku?”

“Tapi aku kan pendek, nanti diledekin yang lain gimana?”

Aku tertawa terbahak mendengarnya.

“Memang apa hubungannya? Lagian jadi lebih gampang kan buat aku meluk kamu.”

“Emangnya siapa yang mau dipeluk sama kamu? Geer!”

Kemudian dia mengangguk perlahan, sambil menahan senyum dia berkata:

“Iya, aku mau.”

Mungkin cahaya purnama tidak muncul untuk menerangi malam. Tapi rasanya, binar hati kami berdua saat ini sudah lebih dari cukup untuk menggantikannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s