Jumatulis #14 Kisah di Kedung Sahwat

Meysa adalah perempuan muda aktivis feminisme yang gigih memperjuangkan isu-isu kesetaraan gender di kotanya. Dia ingin mematahkan dongeng lama bahwa perempuan selalu dibawah pria. Dia peluk erat idealismenya itu bahkan sampai ranjang tidurnya. Kawan-kawan sesama aktivis pun sangat menaruh hormat kepadanya. Meysa adalah gadis kecil yang tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri.

Lantang dan berani dia memimpin demonstrasi menolak penutupan lokalisasi di kotanya. Tak gentar dengan ancaman pihak yang pro dengan penutupan lokalisasi. Polisi menjadi penjaga ketertiban demonstrasi antar kedua belah pihak. Berjaga untuk kemungkinan terburuk karena para pengelola lokalisasi telah menyewa kumpulan preman untuk memblokir jalan masuk.

Meysa karena merasa pihaknya sekarang sedang diatas angin menjadi semakin bersemangat.

“Tolak penutupan lokalisasi kedung sahwat! PSK juga butuh makan!”

“Selama pemerintah tidak mampu memberikan pekerjaan kepada mereka, lokalisasi ini akan tetap buka!”

Ahong, bos besar pemilik beberapa rumah bordil di Kedung Sahwat tersenyum. Dia senang karena ada pembela militan di pihaknya. Mengikuti saran temannya yang merupakan bos media lokal, dia meminta bantuan LSM yang bergerak di isu kesetaraan gender untuk membantunya. Hanya dengan sedikit provokasi, Ahong mengatakan bahwa kelompok fundamentalis agama adalah yang paling berkepentingan agar Kedung Sahwat ditutup. Maka para aktivis yang menyebut diri mereka sebagai pembela HAM itupun menyanggupi permintaannya dan memulai aksinya. Menyebarkan brosur-brosur di jalan yang berisi penolakan atas rencana penutupan Kedung Sahwat, melakukan konferensi pers dan sosialisasi di kampus-kampus. Teman Ahong yang bos media pun langsung menggunakan kesempatan ini untuk membuat opini seolah-olah rencana penutupan lokalisasi ini adalah kesewenangan pemerintah dan akan membuat susah para PSK yang hidupnya sudah merana itu.

“Adalah hak asasi mereka untuk melakukan cara apapun demi menafkahi hidup mereka. Seribu khotbah agama tidak akan bisa mengganti pekerjaan dan mengenyangkan perut mereka!” teriak Meysa pada kerumunan pendemo pro penutupan.

Ibu Yuli, inisiator dan pemimpin gerakan penutupan lokalisasi tak habis pikir dengan yang Meysa lakukan. Meysa yang sama-sama perempuan, masih muda dan terlihat cerdas ini lebih memilih melihat kaumnya menistakan diri menjadi pelacur untuk mencari uang. Karena merasa bahwa akan terjadi deadlock, Ibu Yuli menginstruksikan bahwa massa boleh bubar. Sedangkan dia dengan beberapa perwakilan akan berunding dengan para pengelola lokalisasi dengan dimediasi oleh perwakilan pemerintah daerah. Meysa pun maju sebagai tim perunding yang mewakili pihak lokalisasi. Dengan sangat kritis dan keras dia mengikuti perundingan itu. Hingga akhirnya menghasilkan keputusan bahwa hanya PSK yang memang berinisiatif untuk keluar dari lokalisasi yang boleh direhabilitasi dan ‘ditebus’ oleh pemerintah daerah dengan layak kepada mucikarinya. Selain itu tidak ada pihak yang boleh intervensi dan tidak ada rumah bordil yang ditutup. Meysa merasa sangat bangga dengan keputusan itu, bahwa apa yang diperjuangkannya berhasil. Para preman sewaan tertawa terbahak. Dan seringai Ahong pun semakin lebar, dia menang.

Ditengah gempita syukur ‘petinggi’ lokalisasi, Dita termenung muram. Matanya menerawang kosong menatap Meysa. Dita, yang hidup dan menghidupi tempat ini sejak usia 11 tahun menangis karena satu-satunya pintu keluar sudah tertutup. Tapi ada satu titik di hatinya yang berontak. Titik itu menggumpal dan menghitam karena keputusasaan. Menimbulkan suatu rencana yang dirinya sendiri tidak pernah pikirkan sebelumnya.

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s