Jumatulis Season 2 – 08 Reuni – Dia yang Berubah

“Heh, kau juga? Semakin lengkap teman kita.”

“Ya.”

 Singkat jawabannya. Saat ini kepalanya entah berisi bermacam pikiran atau kosong sama sekali. Tapi yang jelas mulutnya sangat sulit untuk berkata-kata sekarang. Dia juga sebenarnya malas menjawab pertanyaan orang yang juga seniornya itu.

“Jadi reuni kali ini sedikit berbeda.”

Dia bergumam lirih, tersenyum, lalu menutup matanya.


Adi benar-benar tak pernah membayangkan  akan menjadi seperti sekarang. Dia dulu hanya mahasiswa sederhana dari desa, yang dengan ketekunannya mendapat beasiswa untuk kuliah di universitas bergengsi di kota. Kegiatannya di organisasi mahasiswa membawanya pada dunia politik baik selama dan selepas dari kampus. Terdorong oleh asal-usulnya yang berasal dari desa pinggiran, dia lantang berjuang untuk menyuarakan amanat orang-orang pinggiran kota. Aktivitasnya menarik perhatian seorang penting dari salah satu organisasi nasional.

“Saatnya kawan ini berjuang bukan hanya untuk orang pinggiran kota saja, tapi untuk seluruh negeri.”

Dia masih mengingat tawaran itu. Tawaran yang mengubah hidupnya.

Awalnya teman-temannya yang lain menganggap remeh profesi yang dia tempuh. Menjadi sukarelawan organisasi non-profit, organisasi politik non-partai. Sedangkan teman-teman sesama penerima beasiswa lainnya berbondong menjadi pegawai negeri pusat ataupun daerah asalnya. Dia minder memang, tapi berkeyakinan penuh bahwa ini adalah pangilan jiwanya. Pengabdian pada rakyat.

Sampai tiba saat itu, pemilu nasional. Senior organisasinya mengajak untuk masuk partai. Demi mengusung calon presiden proletar, katanya. Seniornya meyakinkan dia bahwa capres kali ini berbeda, dia populer sekali di mata rakyat.

“Beliau adalah harapan baru. Lihat reaksi rakyat yang selalu menyambutnya. Mereka rakyat bereaksi seperti itu karena merasa bahwa beliau adalah cerminan mereka juga, pemimpin dengan wajah dan gerak gerik seperti rakyat.”

Akhirnya, dia pun bergabung. Dalam barisan partai pengusung capres rakyat itu. Dia segera masuk ke barisan relawan partai, mengorganisir dan memimpin. Dia juga mendapat kepercayaan untuk membuntuti kemanapun capres rakyat itu berkampanye. Menyiapkan dan memastikan bahwa di setiap tempat yang disinggahi, rakyat akan berbaris menyambut dan meneriakkan nama si capres rakyat.

Bulan-bulan yang melelahkan pun dilalui. Dalam perjalanan kampanye, sebenarnya ada bebeapa hal yang mengusik benaknya. Mulai berpikir apakah benar orang ini adalah harapan baru yang dinantikan negeri ini.

“Kampanye yang selalu meriah, publikasi tanpa henti di media, puja-puji dari asing, bahkan pesawat ini! Darimana biayanya?”

Begitu hatinya bergemuruh dalam perjalanan udaranya menemani si capres. Mereka sedang terbang kembali menuju ibukota, bersiap untuk menghadiri acara pengumuman kemenangan oleh panitia pemilu nasional. Ya, mereka menang seperti yang telah diprediksikan para pengamat dan lembaga hitung politik nasional. Perjuangan melelahkan selama berbulan-bulan telah tertebus dengan menyenangkan.

“Ah, berpikir apa aku ini. Jika aku  mulai menyinggung masalah ini, kawan-kawan yang lain pasti tidak suka. Dan memang aku tidak mau merusak hasil berjuang bulanan yang telah aku tempuh menjadi sia-sia.”

Maka dilantiklah si capres rakyat menjadi presiden. Pawai kemenangan digeber meriah pula dijalanan ibukota. Panggung hiburan didirikan di depan istana negeri untuk berpesta. Rakyat ikut senang malam itu, begitu pula dengan para relawan yang ikut puas dengan hasil kerjanya. Dan tentu senang pula untuk mengharap hadiah kerja mereka selama ini dari tuan presiden yang baru.

Tuan presiden membagikan “kuenya”. Satu demi satu potongan kue untuk mulut lapar relawannya. Tuan presiden berharap kue yang diberikan sudah cukup memuaskan. Jika ada yang tidak terima, tuan presiden akan mengingatkan kembali pada mereka kata-kata mulia beliau tentang “berjuang tanpa syarat”. Dan bagi mereka yang tidak mendapat apapun, sudah bertekad akan kembali ke jalan dengan dalih menjaga daya kritis dan netralitas. Nanti, mereka ini akan dianggap sebagai kutu oleh pemerintah. Ketika mereka mulai aktif menggigiti kebijakan pemerintah, mereka akan mendapat garukan lembut berupa pemberian donasi atau dana sosial. Dan ketika pemerintah berhentik menggaruk, kutu-kutu ini akan aktif lagi menggigit. Jika pemerintah sedang kesal dengan gatal yang ditimbulkan, mereka para kutu ini akan mendapat garukan kasar.

 Adi termasuk yang beruntung karena mendapat kue di suatu instansi pemerintah. Beberapa kawannya yang lain juga mendapat posisi yang lumayan. Bahkan seniornya mendapat jabatan di suatu badan anggaran lembaga pemerintah.

“Aku berjanji akan menggunakan kepercayaan yang diberikan tuan presiden untuk melanjutkan pengabdian pada rakyat. Dengan posisiku sekarang, aku bisa berbuat lebih banyak untuk kebaikan mereka.”

Tapi sayang tidak semua seperti adi. Berikutnya dia akan melihat satu persatu kawannya tertangkap basah sedang berulah. Ada yang tertangkap kamera media sedang tidur saat rapat dewan negara (yang dengan tak tahu dirinya menyangkal sudah tidur!). Ada yang terungkap memiliki simpanan tidak sah oleh media hiburan (artis wanita terkenal). Bahkan yang lebih parah, tertangkap basah sedang menerima suap oleh lembaga anti rasuah.


“Bodoh mereka itu. Menggadaikan idealisme mereka untuk kesenangan ala kelas borjuis. Terima akibatnya!”

Begitu katanya sambil duduk di sofa mewah itali-nya. Tangan kanan memencet remote tv 50 inch keluaran pabrikan Korea tercanggih. Tangan kirinya memegang segelas wine langka dari Paris. Dalam rumah megah bergaya mediterania di daerah paling elite ibukota, adi hidup tenang dan nyaman sebagai pejabat negeri.

Adi memang berbeda dari kawannya. Dia dikenal media sebagai pejabat muda yang idealis. Namanya populer dan bahkan digadang-gadang sebagai calon pemimpin muda negeri di masa depan. Ini semua berkat ajaran seniornya. Dia yang mengajari adi bagaimana berurusan dengan media sehingga citranya terjaga. Bagaimana bersikap di depan umum. Soal bagaimana kelakuan dia sebenarnya terserahlah.

“Bukan masalah, bukan masalah. Toh uang yang kuambil ini juga akan kubelanjakan untuk rakyat. Mereka juga akan kecipratan rezeki, mereka malah akan berterima kasih padaku.”

Hal-hal itulah yang selalu dikatakan Adi pada dirinya sendiri ketika mengotak-atik anggaran negara.

Dan memang, Adi sangat royal pada rakyat. Salah satunya adalah adi selalu menjadi sponsor tunggal reuni kampusnya. Dia ingin menunjukkan seberapa tinggi kedudukannya pada teman-teman yang dulu meremehkan. Disewanya selalu hotel termahal dan katering terenak. Dipanggilnya artis dan band terkenal untuk mengisi acara.  Adi yang dulu biasanya hanya bisa bergaul dengan artis jalanan kini berdansa dansi denan artis-artis wangi dan bergaun mahal. Bagi Adi, malam-malam reuni adalah malam pesta pora.

Tidak ada pesta yang tidak akan berhenti. Tidak ada kejahatan yang tidak akan terbongkar. Becik ketitik ala ketara. Apes kini menimpa Adi. Seniornya dituntut oleh hukum karena penyelewengannya pada anggaran negara terbongkar. Oleh undang-undang anti pencucian uang, diketahui bahwa dana haram mengalir juga ke Adi. Maka Adi pun terseretlah pada pusaran hukum. Tak dapat mengelak, dicaci media dan ditinggalkan keluarga serta teman yang dulu ikut senang dengan uang dari Adi. Sendirian, hingga akhirnya dia digelandang masuk penjara menyusul senior dan kawan-kawannya di penjara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s