Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak

Untuk anakku yang belum terlahir,

Indonesia adalah negeri sejuta karunia dari Tuhan. Dari ujung barat ke timur, dari udara sampai menembus ke buminya, akan Kau temui karunia. Manusia-manusianya pun dikenal sebagai bangsa ramah dan santun dari Timur. Selalu menyambut ramah tamu yang masuk, menjaga kehormatan tamunya.

Tapi Nak, segala yang disebut karunia itu seakan menjelma menjadi kutukan. Negeri ini selalu menjadi rebutan. Bangsa-bangsa asing yang terkesima dengan kekayaan bumi nusantara ini, yang terheran-heran dengan keramahan penduduknya, menjadi silap. Mereka tidak ingin sekedar bertransaksi biasa, mereka ingin berkuasa.  Dan para pendahulu kita yang menyadari niat jahat tamu asing telah berjuang, dengan setiap bulir nyawa yang mereka miliki menyongsong kematian.

Diawal-awal abad keserakahan Eropa itulah, para pendahulu kita kewalahan menghadapi musuh asing dengan senjata yang lebih canggih. Mereka juga kalah karena strategi musuh yang lebih modern, hasil dari peradaban ilmu yang lebih beradab dari negeri kita ketika itu. Bukan saja dari para tamu asing itu, tapi dari saudara yang sama warna kulit dan bentuk hidungnya dengan kita waspadalah dengan mereka. Telah banyak kisah tragis pengkhianatan oleh saudara sendiri yang terbutakan oleh iming-iming kekuasaan dan harta semu dari penjajah, menikam perjuangan dan menindas bangsa sendiri.

Karena ilmu kita kalah. Karena kesadaran akan persatuan yang rendah kita mudah menyerah. Karena cita-cita yang dibenamkan paksa oleh penjajah, berabad kita terjajah. Maka camkan Nak: Negara ini, Negara Republik Indonesia, bukan milik kelompok agama, etnik, atau adat atau tradisi apapun, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke (1). Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi (2). Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas (3). Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang (4). Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita (5).

Dari mereka, Aku tidak memintamu mengingat sekedar nama atau tahun-tahun mereka lahir, berjuang dan mati. Aku hanya meminta agar Kau memiliki semangat mereka, keyakinan mereka terhadap negeri ini. Karena dalam darahmu, darah kita, mengalir darah yang sama dengan darah yang mengalir pada pembuluh tubuh mereka. Karena dari rahim Nusantara inilah Aku, Kau dan Mereka dilahirkan.

Dari sini semoga Kau mengerti Nak, jika udara yang Kau hirup secara percuma itu, tanah yang Kau pijak tanpa rasa takut itu, ialah hasil perjuangan para pendahulumu, pahlawan-pahlawan negerimu. Bahwa kemerdekaan bukanlah suatu hal yang diperoleh secara percuma. Kemerdekaan adalah hutang, hutangmu pada pahlawan terdahulu dan hutangmu pada anak cucumu sebagai generasi penerus bangsa. Maka selalu ingati dan lunasi.

Keterangan:

(1) & (4): Sukarno

(2) & (5): Mohammad Hatta

(3): Tan Malaka

Tulisan ini diikutsertakan di dalam #SGANia bulan November 2014 http://kata-nia.blogspot.com/2014/11/SGANia-Nov14.html.

Iklan

1 thought on “Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s