Jakarta – Japan Matsuri 2016 dan Terlewatnya Kesempatan Menimba Ilmu Blogging

Sebenarnya saya termasuk penikmat budaya populer Jepang seperti manga dan anime. Namun entah kenapa saya tidak pernah tertarik dengan kebudayaan tradisional Jepang, apalagi untuk menghadiri festival kebudayaannya di sini. Mungkin karena menurut saya, budaya Indonesia sudah terlalu kaya dan itu sudah cukup.

Makanya saya sering heran dengan anak – anak muda yang bukan hanya menjadi penikmat manga dan anime, tapi seperti terlalu jauh menghayati budaya Jepang. Jika dilihat dari cara berpakaian mereka yang ala harajuku style, menempel stiker bendera Jepang di mobil atau motor dan yang sekarang sedang ngetrend: jadi Wota.

Tapi kali ini ceritanya berbeda karena saya mendapat jatah tiket festival budaya Jepang dari kantor dan diminta ikut meramaikan acara tersebut. Saya pikir tidak ada salahnya, toh gratis dan bisa melihat penampilan Tulus secara langsung. Masalahnya ada pada waktu pelaksanaan acara tersebut, yang bertepatan dengan acara kopi darat Klub Buku dan Blogger BPJ (Kubbu). Tidak kalah menarik sebenarnya, karena di kopdar akan dibahas tentang ilmu blogging: domain dan hosting. Yah, kita harus memilih dan saya memilih datang ke acara yang direkomendasikan kantor.

Jakarta – Japan Matsuri sendiri diselenggarakan untuk memperingati persahabatan (hubungan diplomatik) Indonesia – Jepang yang sudah terjalin selama 60 tahun. Jadi di acara ini akan diperlihatkan budaya tradisional rakyat Jepang dan tentu saja kulinernya yang menggoda untuk dicoba. Tapi untuk kulinernya sendiri, menurut saya tidak istimewa sehingga sebelum saya meninggalkan acara saya mengisi perut lagi dengan tempe mendoan yang dijual di stand makanan. Budaya tradisionalnya menurut saya juga biasa saja, namun saya sempat kaget begitu mengetahui yang memainkan budaya dan kesenian Jepang dengan penuh semangat itu orang – orang kita sendiri. Stand yang ada di acara pun hampir semuanya stand perusahaan asal Jepang, termasuk perusahaan saya yang ikut berpartisipasi.

Setelah saya coba bandingkan dengan penilaian saya pribadi, budaya tradisional kita lebih kaya dan semarak daripada punya Jepang. Namun kita kalah dengan cara mereka mempopulerkan kebudayaannya. Mereka memperlihatkan pada dunia (termasuk Indonesia) nilai dan ragam kesenian budaya Jepang melalui saluran populer yang digemari, yaitu manga dan anime. Menurut saya untuk selanjutnya, para pegiat budaya Nusantara harus memikirkan saluran atau wadah yang tepat, yang bisa diterima dengan asyik oleh remaja anak muda bangsa. Agar mereka tidak berlarut dengan kebudayaan bangsa lain dan asing dengan budaya sendiri.

Iklan

6 thoughts on “Jakarta – Japan Matsuri 2016 dan Terlewatnya Kesempatan Menimba Ilmu Blogging”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s