Introspeksi 2017

pixeldotnymagdotcom
pixel.nymag.com

Biasanya orang-orang akan membuat resolusi tahun baru. Saya belum tertarik untuk membuatnya karena persoalan “Gue udah ngapain aja di tahun ini?” lebih mengusik pikiran. Maka tulisan ini menjadi semacam alat bantu introspeksi di tahun 2017.

Pekerjaan

Mengawali tahun 2017 dengan case yang bikin pusing di kantor. Ada indikasi kuat terjadi penyimpangan pada salah satu proses bisnis di suatu cabang namun data-data yang diperoleh belum signifikan untuk membongkar seluruhnya. Sampai akhirnya kami putar balik, mulai dari ujung awal prosesnya.

Yang artinya banyak field work yang harus dilakukan, selain paper work yang memerlukan pengerjaan yang fokus dan detail. Banyak pihak eksternal yang harus dihubungi dan dimintai keterangan, yang tentunya tidak mudah dilakukan. Ada saat kami deg-degan karena harus berhadapan dengan pihak yang “berbahaya”, juga ketika kami harus melaporkan analisis dan bukti-bukti ke atasan (hehehe ini lebih serem sih). Tapi setelah case solved, lega sekali rasanya karena 2-3 bulan yang penuh perjuangan mencapai penyelesaiannya.

Dari kasus ini (dan pekerjaan lainnya sampai sekarang) saya belajar bahwa dalam bekerja, ketekunan dan persiapan yang baik itu sangat penting. Ketekunan yang ajeg adalah kemampuan yang menurut saya sulit (tapi wajib) untuk dikuasai. Kita bisa tekun di awal-awal tapi ketika sudah merasa stuck tekun kita hilang dan memperlambat kemajuan kerja. Saya juga agak kewalahan dengan “persiapan yang baik” karena field work atau tugas lapangan memberikan banyak kejadian yang tidak terduga meskipun kami sudah berusaha mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang ada. Ibaratnya dari 100 yang kita rencanakan hanya 10 atau paling mentok 30 yang sesuai rencana, selebihnya adalah “improvisasi” di lapangan. Tapi sering “improvisasi” ini tidak tepat sehingga kerjaan harus diulang lagi. Harusnya saya bisa lebih tekun, dengan ketekunan yang ajeg. Dan berusaha mempersiapan pekerjaan dengan baik supaya proses dan hasilnya juga baik. Agar bekerja tidak hanya sekedar bekerja, naik level dari sekedar bekerja menjadi berkarya.

Kesehatan

Salah satu hal yang erat dengan pekerjaan adalah dampaknya kepada kesehatan. Atau kita yang bisanya menyalahkan pekerjaan atas ketidakmampuan menjaga kesehatan. Dan saya mengakuinya :). Tugas luar kota, tugas lapangan, lembur dan tenggat pekerjaan membenarkan tindakan untuk tidur larut malam, makan sembarangan, bermalas-malasan di hari libur dan tidak berolahraga. Dampak buruk yang mudah terlihat adalah lingkar perut yang tidak terkontrol :(.

Saya hitung sendiri, jarang sekali saya berolahraga di tahun ini. Padahal cukup dengan meluangkan minimal 30 menit dari 24 jam waktu kita seharian untuk menggerakkan badan. Saya berusaha mengatasi keengganan bergerak ini dengan sebisanya keluar dari kamar, minimal jalan kaki 30 menit atau angkat barbel ringan kalau kita merasa malas untuk jogging. Untuk makan saya sudah agak sadar, kalau tidak sedang tugas luar kota saya selalu usahakan makan sayur dan buah setiap makan. Tidur larut malam juga yang membuat siklus tidur berantakan, saya sedang berusaha “merapikannya” lagi.

Hobi

Membaca, menulis dan travelling adalah tiga hal yang biasanya saya tulis atau katakan sebagai hobi. Yang terakhir adalah hobi baru dalam tiga tahun ini. Dan selama 2017 ini tidak bisa menikmati sepenuhnya hobi-hobi tersebut. Saya katakan membaca sebagai hobi, tapi total yang saya baca sampai akhir tahun ini tidak sampai 12 buku. Tidak sampai satu bulan satu buku. Kebanyakan membaca tidak sampai tuntas, terganggu dengan hiruknya gawai dan medsos, atau lebih tergoda untuk menonton film. Begitupun menulis. Saya sebut menulis maksudnya adalah ngeblog, yang selama 2017 hanya ada 5 tulisan terposting dan meninggalkan 2 tulisan konsep. Harusnya bisalah satu bulan satu postingan blog.

Bagaimana dengan travelling? saya bersyukur pekerjaan selama ini melibatkan aktivitas ke luar kota, yang meskipun tidak selalu bisa menyempatkan berkunjung ke objek wisatanya, minimal bisa menikmati wisata kulinernya. Jadi untuk travelling tahun ini cukuplah. Cukup tidak puas hehehe.

Media Sosial

Tentang media sosial (medsos) dan bersliwerannya informasi (belum tentu benar) yang menyerbu kita. Apapun yang dialirkan di media sosial menjadi perhatian dan perbincangan di dunia nyata. Walaupun tidak semua menjadi perhatian yang serius juga. Beberapa informasi yang timbul karena ketidakhati-hatian seseorang dalam menghomati ajaran keyakinan lain, menjadi tornado panas yang menyedot dan menggulung tidak hanya perhatian dan perbincangan namun juga emosi banyak orang. Tornado panas itu sudah sedemikian besarnya untuk ditampung di medsos hingga kemudian meluber keluar di dunia nyata.

Berpendapat memang hak semua orang. Berkomentar dan berbagi informasi lewat medsos juga hak. Tapi di era digital di mana banjir informasi sulit dibendung, harus lebih menahan diri. Banjir informasi yang dihantarkan melalui medsos membawa fakta dan hoax yang bisa membingungkan. Salah bersikap di medsos bisa jadi fitnah atau menambah keruh suasana. Maka usahakan bijak dalam bermedsos, jangan sampai kita menjadi bagian dari masalah. Bijak dengan bertanya dan membandingkan informasi dari sumber lain. Saya mungkin masuk dalam kategori pelaku medsos yang belum bijak, tapi saya berusaha. Saya berusaha tidak membagikan informasi yang sumbernya tidak jelas, terutama di lingkaran keluarga dan pertemanan saya. Menahan diri dari berkomentar atas isu atau berita yang tidak terlalu saya pahami. Memangnya semua harus kita komentari?

Pribadi

Ada kejadian yang berbenturan dengan prinsip yang bikin bimbang. Belakangan saya juga memikirkan kembali hal-hal yang saya anggap sudah settle seperti profesi yang sedang saya jalani, menggelitik saya untuk mencari tahu tentang apa sebenarnya passion dan tujuan hidup saya. Segala persoalan yang menimpa diri pribadi maupun orang yang saya kasihi. Masalah yang gejalanya sudah ada dan tinggal menuju penyelesaiannya.  Hal-hal yang karena kualitas yang ada dalam diri saya: bisa terselesaikan, masih tertunda dan menjadi lebih buruk. Muara semua ini adalah penyadaran. Bahwa saya masih menjadi bagian dari kehidupan, yang di dalamnya hal-hal berubah secara kasat maupun nyata. Pergerakan dalam kehidupan yang memberikan masalah dan solusinya, atau masih dalam kegalauannya.

Dan akhirnya saya beruluk syukur atas segala hal baik dan buruk serta hal-hal yang belum ketahuan baik buruknya bagi saya. Seperti judul blog ini, bagi saya kehidupan adalah perjalanan menuju makna. Yang artinya saya berusaha berjalan (baca: bergerak-berusaha) sebaik-baiknya sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Hidup.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s