Ranah 3 Warna: Sebuah Usaha Mengingat Kembali

“…..Rupanya man jadda wajada saja tidak selalu cukup. Aku hanya akan seperti badak yang terus menabrak tembok tebal. Seberapa pun kuatnya badak itu, lama-lama dia akan pening dan kelelahan…..Jarak antara usaha dan hasil harus diisi dengan sebuah keteguhan hati…..”

RANAH 3 WARNA
Ranah 3 Warna

Buku ini mengantarku kepada cuplikan masa di mana diri sedang diuji kencang dan membutuhkan usaha yang sangat untuk bersabar. Kisah SMA tidak hanya menawarkan kesenangan dan kebanggaan, tapi juga ujian-ujian “kecil” yang melatih mental kita untuk siap menghadapi ujian yang lebih besar. Pun begitu dengan kisah-kisah berikutnya sampai sekarang.

Kisah Alif selepas dari Pondok Madani yang penuh seru dan debar semangat dalam Negeri 5 Menara akan menemukan penyeimbangnya di sini. Buku ini mengisahkan kisah hidup yang memang sejatinya turun dan naik. Ada saat kita diuji atau ditimpa musibah, ada pula akhirnya kita diberi nikmat dan kemudahan dalam segala urusan.

Dimulai dengan usaha Alif untuk meneruskan sekolah ke jenjang kuliah. Kekurangan Alif sebagai santri jebolan pondok pesantren yang tidak memiliki ijazah SMA serta kurikulum yang berbeda dengan sekolah umum, membuat keinginannya untuk melanjutkan sekolah tidak hanya diremehkan oleh temannya saja, bahkan dirinya sendiri juga sempat meremehkan. Komitmen ayah dan ibunyalah, yang ingin Alif mendapatkan pendidikan terbaik, yang menjadi pondasi motivasi dan usaha kerasnya menggapai keinginan kuliah.

Perjalanan yang dikisahkan dalam buku ini menampilkan susahnya kehidupan perantau, yang jauh dari keluarga, teman dan tempat tinggal, menuju tempat asing. Beberapa peristiwa dan kondisi yang akhirnya akan menimpa Alif, yang akan memaksanya keluar dari zona nyaman demi menyambung hidup.

Dalam buku ini akan ditampilkan Alif yang menampilkan sikap gigih dan teguh dengan keinginannya. Bukan sekedar mengejar keinginan buta, tapi dengan rasional. Misalnya adalah cerita Alif harus berkompromi dengan cita-citanya kuliah di jurusan teknik penerbangan ITB dan memilih fokus ke jurusan Hubungan Internasional Unpad. Atau bagaimana awal mula Alif akan menjadi pemburu beasiswa luar negeri yang sukses: permohonan beasiswa ke kampusnya sendiri ditolak.

Buku ini layak untuk dibaca bagi yang sedang mencari inspirasi dalam perjuangan menuntut ilmu dan semangat berprestasi. Isi bukunya juga tidak melulu tentang kesenangan dan keberhasilan Alif, tapi akan ditampilkan juga sisi duka dan tidak tercapainya keinginan. Mantra untuk melalui itu semua adalah Man Shabara Zhafira!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s