Senyum Mereka, Orang-orang yang Kita Pinggirkan

Keluarga Gerobak/m.merdeka.com
Keluarga Gerobak (m.merdeka.com)

Bisa dibilang aku adalah orang yang susah tersenyum. Bukan berarti aku tidak pernah atau tidak bisa tersenyum lho ya. Hanya saja murah senyum bukanlah default mukaku. Sehingga kesan pertama orang padaku adalah jutek, dingin, atau kalau aku kedapatan beberapa kali tersenyum, akan disebut kalem haha.

Buat orang sepertiku—banyak orang yang juga pelit senyum sepertiku, antonim dari murah senyum—sering disalapahami dengan sedang ada masalah. Semakin jarang senyum, akan diartikan semakin berat pula masalahnya. Waduh! Padahal ya tidak begitu, memang bentukan muka saya seperti ini hehehe.

Nah dalam tulisan kali ini, aku mau mengutarakan keherananku atas beberapa fenomena yang kuamati. Aku lahir dalam keluarga sederhana di mana kebutuhan pokokku sebagai anak tercukupi: pangan, sandang, papan, dan pendidikan (dibiayai orang tua sampai S1). Dengan input seperti itu, tentu orang tuaku berharap output yang baik. Minimal bisa bekerja kantoran dengan gaji tetap tiap bulan. Pokoknya bisa masuk dalam kategori mapan, atau dalam istilah demografi ekonominya termasuk dalam warga dengan pendapatan menengah (walaupun tetap paling bawah dalam spektrum menengah wkwk).  Begitu juga dengan teman-teman yang lain, yang berasal dari kondisi keluarga yang kurang lebih sama denganku—bahkan tidak sedikit yang berasal dari tingkat kemakmuran yang jauh lebih baik.

Masuklah kami dalam rutinitas khas orang kota. Berangkat kerja-kerja-pulang kerja. Di akhir pekan bersosialisasi, berlibur, atau sesederhana beristirahat dari pagi sampai pagi lagi. Rutinitas yang kami pikir normal dan wajar. Rutinitas yang menjemukan, tetapi memberi rasa aman. Dan dari keadaan ini, kami melihat orang lain yang kami anggap tidak seberuntung kami, dengan pandang iba. Misalnya penjual keliling, kuli angkut, buruh tani, tukang gerobak sampai tukang panggilan yang sering terlihat di bawah flyover kota-kota besar. Lanjutkan membaca “Senyum Mereka, Orang-orang yang Kita Pinggirkan”

Dalam Masa Pandemi, Kita Semua Mencoba Bertahan

black plague pinterest
sumber: pinterest

Kita tidak sedang baik-baik saja. Keadaan di mana kita harus menutup dan menjaga jarak dari yang lainnya ternyata melelahkan. Bahkan bagi kaum introvert sekalipun. Mereka yang biasanya akan sangat menikmati momen untuk tidak kemana-mana, selalu ingin segera pulang, kali ini juga terdampak kejemuan. Yang paling tenang pun merasa jemu sekarang.

Pandemi ini menyebabkan kita sebagai anggota masyarakat mengubah cara berinteraksi. Ya memang, banyak yang tidak mau berubah. Masih saja ada yang menolak untuk memperhatikan bahwa dalam situasi yang sejatinya genting ini kita harus rela berubah, tetapi tidak melakukan apa-apa. Alasannya sangat “tidak berdosa”, yaitu: “toh kami masih baik-baik saja”. Lanjutkan membaca “Dalam Masa Pandemi, Kita Semua Mencoba Bertahan”

Introspeksi 2017

pixeldotnymagdotcom
pixel.nymag.com

Biasanya orang-orang akan membuat resolusi tahun baru. Saya belum tertarik untuk membuatnya karena persoalan “Gue udah ngapain aja di tahun ini?” lebih mengusik pikiran. Maka tulisan ini menjadi semacam alat bantu introspeksi di tahun 2017.

Pekerjaan

Mengawali tahun 2017 dengan case yang bikin pusing di kantor. Ada indikasi kuat terjadi penyimpangan pada salah satu proses bisnis di suatu cabang namun data-data yang diperoleh belum signifikan untuk membongkar seluruhnya. Sampai akhirnya kami putar balik, mulai dari ujung awal prosesnya.

Lanjutkan membaca “Introspeksi 2017”

HOS Tjokroaminoto: Guru Bapak Bangsa

hos tjokroaminoto
HOS Tjokroaminoto (id.wikipedia.org)

Kalau ada yang mengikuti cerita Naruto, pasti kenal yang namanya hokage ketiga atau yang biasa dipanggil dengan nama Guru Sarutobi. Dia guru shinobi yang hebat, murid-muridnya: Jiraiya, Orochimaru dan Tsunade. Tapi seperti yang kita tahu, muridnya banyak yang mengambil jalan berbeda dengan gurunya ini, bahkan cenderung saling bermusuhan. Nah, kisah Tjokroaminoto ada kemiripan dengan hokage ketiga. Sebagai perkenalan coba baca syair beliau ini:

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa

Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya
Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orang pun akan menamakannya pongah, karena tidak mau ditindas

Bahasamu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam bahasa ngoko
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurang ajar

Syair di atas ditulis oleh Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, legenda pergerakan nasional Indonesia. Jika kita sepakat bahwa Sukarno, Hatta, Syahrir dsb adalah para pendiri bangsa, maka kita layak menyebut HOS Tjokroaminoto sebagai Gurunya Para Pendiri Bangsa. Karena beliau dikenal sebagai Pemimpin Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan massa modern pertama di Indonesia. Bahkan beberapa sejarawan menyebut lebih layak SI yang disebut sebagai organisasi pelopor kebangkitan nasional, bukan Budi Utomo (BU).

Tjokroaminoto dilahirkan di Madiun, 16 Agustus 1882. Berasal dari keluarga bangsawan tapi kemudian melepas gelar kebangsawanannya karena berontak pada budaya feodal yang ada. Hal ini pula yang menyebabkan beliau berselisih jalan dengan mertuanya, wakil bupati Ponorogo saat itu. Beliau memilih hidup sederhana di Surabaya dengan istri dan kelima anaknya sambil menyewakan rumahnya untuk indekos. Di rumahnya inilah kelak, para tokoh pergerakan yang indekos akan mewarnai sejarah Indonesia dengan  “cara perjuangannya” masing-masing. Ada Sukarno remaja yang kelak mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Presiden Pertama RI, Kartosuwiryo pendiri gerakan dan imam besar Negara Islam Indonesia (NII)/Darul Islam (DI), serta trio Muso-Alimin-Semaun yang akan mendirikan Partai Komunis Indonesia.

Bisa ditebak, perbedaan ideologi dan cara juang diantara ketiga murid beliau akhirnya jadi bom waktu yang meledak!

Lanjutkan membaca “HOS Tjokroaminoto: Guru Bapak Bangsa”

Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak

Untuk anakku yang belum terlahir,

Indonesia adalah negeri sejuta karunia dari Tuhan. Dari ujung barat ke timur, dari udara sampai menembus ke buminya, akan Kau temui karunia. Manusia-manusianya pun dikenal sebagai bangsa ramah dan santun dari Timur. Selalu menyambut ramah tamu yang masuk, menjaga kehormatan tamunya.

Tapi Nak, segala yang disebut karunia itu seakan menjelma menjadi kutukan. Negeri ini selalu menjadi rebutan. Bangsa-bangsa asing yang terkesima dengan kekayaan bumi nusantara ini, yang terheran-heran dengan keramahan penduduknya, menjadi silap. Mereka tidak ingin sekedar bertransaksi biasa, mereka ingin berkuasa.  Dan para pendahulu kita yang menyadari niat jahat tamu asing telah berjuang, dengan setiap bulir nyawa yang mereka miliki menyongsong kematian.

Diawal-awal abad keserakahan Eropa itulah, para pendahulu kita kewalahan menghadapi musuh asing dengan senjata yang lebih canggih. Mereka juga kalah karena strategi musuh yang lebih modern, hasil dari peradaban ilmu yang lebih beradab dari negeri kita ketika itu. Bukan saja dari para tamu asing itu, tapi dari saudara yang sama warna kulit dan bentuk hidungnya dengan kita waspadalah dengan mereka. Telah banyak kisah tragis pengkhianatan oleh saudara sendiri yang terbutakan oleh iming-iming kekuasaan dan harta semu dari penjajah, menikam perjuangan dan menindas bangsa sendiri.

Karena ilmu kita kalah. Karena kesadaran akan persatuan yang rendah kita mudah menyerah. Karena cita-cita yang dibenamkan paksa oleh penjajah, berabad kita terjajah. Maka camkan Nak: Lanjutkan membaca “Sebuah Pesan untuk Anakku Kelak”