Negeri Ilmu

Pertama kali melangkahkan kaki disana, sambil berfikir bahwa ini adalah batas terluar, terjauh dari orbit kehidupanku selama ini, Ponorogo. Membayangkan bahwa aku akan menghabiskan hari-hari yang panjang di tempat itu, di kota itu, tempat dimana fatwa jihad dikeluarkan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari dan disambut oleh ribuan jiwa mujahid untuk berjuang mempertahankan negerinya di Surabaya, kota yang mendapat julukan “Kota Pahlawan” karena peristiwa super heroik itu terjadi disana.

Hati ini sudah bisa merasakan atmosfer yang berbeda. Berdesir, karena semangat dan khawatir. Berdesir semangat karena ini adalah tantangan, ini adalah sesuatu yang benar-benar baru, dan ini adalah semacam rintisan tradisi dalam keluargaku. Khawatir, karena berpikir apakah aku benar-benar siap untuk ini? untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk saat kita berada di luar jangkauan orang-orang yang biasa menyayangi dan melindungi kita.  Tapi pada akhirnya, jawaban “Ya” yang kuberikan pada ayahku, saat beliau menawarkan “Nak, apakah kamu tertarik untuk masuk pesantren?” telah menempatkanku pada posisi, siap atau tidak siap pokoknya harus siap. Segala celoteh-celotehanku, angan-anganku di masa lalu akhirnya menjadi kenyataan, aku menuntut ilmu di pondok pesantren!

Memang tidak semua pandangan idealisku tentang kehidupan pesantren terjadi disana, baca selengkapnya…

Mengolahragakan Otak

Hmm, mengolahragakan otak kita? Perlu enggak sih?

Mungkin belum banyak yang tahu tentang perlunya kita mengolahragakan otak. Bukan perlu aja malah, yang lebih tepat adalah PENTING!. Dengan mengolahragakan otak, akan terbentuk saraf baru yang dapat melindungi kita dari gejala demensia atau kepikunan. Iyalah, frustasi enggak sih kalau kita sering melupakan hal-hal sepele dan mungkin kenangan-kenangan indah dalam hidup?. Lupa nama anak atau cucu masih mending, nah kalau kita lupa nama sendiri gimana? (ini kayaknya lebih ke hilang ingatan ya, he..).  Jadi, jika tidak ingin terkena “pikun dini” atau melewati masa tua dengan kepikunan yang membelenggu  maka tips-tips berikut dapat dicoba.

baca selengkapnya…

Beginilah Cara Lelaki Agung Merayakan Hari Kemenangan

Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap kembali meniti Ramadhan di tahun depan.

Satu persatu kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis kecil di tepi jalan.

“Gerangan apakah yang membuat engkau menangis anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik segukan sang gadis.

baca selengkapnya…

Dialah Muhammad, yang Selalu Kami Rindukan

Sayyidina Bilal ra, muadzin Nabi SAW, seorang yang asalnya budak dan sekarang kita panggil sayyid (tuan) karena kemuliaannya menjadi sahabat Muhammad SAW. Setelah wafat Nabi SAW, ia pun meninggalkan kota Madinah, karena merasa tidak mampu untuk tinggal di kota Nabi – tanpa sang Nabi. Selang beberapa waktu setelah tinggal di kota tujuannya, beliau memimpikan Rasulullah SAW yang mengisyaratkan untuk kembali ke Madinah. Maka beliau pun kembali ke Madinah.

Setibanya di Madinah, disambut oleh sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra dan memintanya untuk kembali menjadi muadzin di kota Madinah sebagaimana dulu ia adzan untuk Nabi SAW. Beliau menolak, “Tidak akan saya adzan selain untuk Nabi SAW,” katanya.
baca selengkapnya…

Bagaimana Kita Keluar dari Keterpurukan: 5 Langkah Keluar dari Keterpurukan

Setiap dari kita pasti pernah (dan mungkin sedang) mengalami keterpurukan. Hal biasa yang akan terjadi saat impian atau tujuan kita tidak tercapai, atau, mungkin tercapai tapi tidak cukup memuaskan kita. Kehidupan yang berjalan dengan biasa-biasa saja juga dapat memberikan rasa bosan, dan ketika kita sudah berusaha untuk membuat sesuatu untuk lebih menggirahkan kehidupan, hasilnya hanya akan membuat kita kecewa. Hidup berjalan seperti biasanya, dan rasa keterpurukan semakin menjadi.

Penolakan dari dalam diri untuk berusaha mencoba lagi, memulai sebuah perjuangan tentu akan terasa berat. Kita mungkin berpikir untuk menyerah dan membiarkan kita dikuasai oleh keterpurukan, berusaha hidup dengannya. Tapi kita semua tahu, jika kita melakukannya, kita hanya akan menyia-nyiakan anugerah terbesar yang diberikan oleh Sang Pencipta, yaitu: KEHIDUPAN.

Beberapa tips dibawah, mungkin dapat membantu anda untuk keluar dari keterpurukan: baca selengkapnya…