Menyusuri Martapura: Ibukota Terakhir Kesultanan Banjar

dsc_0404

Sebelumnya hanya Bali, satu-satunya pulau di Indonesia yang pernah saya kunjungi di luar pulau Jawa. Di Bali saya merasa, budaya dan karakteristik masyarakatnya masih ada kemiripan dengan di Jawa. Mungkin karena sebagian penduduk Bali dulunya adalah orang-orang Jawa Majapahit yang berpindah ke sana.

Perjalanan ke Kalimantan ini, adalah perjalanan pertama kalinya saya ke tempat yang harusnya berbeda sama sekali baik dari  adat, budaya dan karakteristik masyarakatnya. Terlebih sebelumnya, saya sudah mendapat beberapa gambaran yang mencitrakan bagaimana karakter masyarakat Kalimantan itu.

Saya berangkat bersama beberapa teman kerja ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan via udara dan mendarat di Bandara Syamsudin Noor. Dari Banjarmasin, saya melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat menuju Martapura. Martapura sendiri adalah nama Kecamatan yang sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Banjar,  jaraknya sekitar 40 KM dari Banjarmasin.

Mendengar Martapura, saya langsung mengaitkannya dengan intan dan rupa-rupa batu permata. apalagi waktu itu “demam batu” sedang melanda. Kota ini menjadi ibukota terakhir Kesultanan Banjar yang di masa jayanya, wilayahnya membentang dari Tanjung Sambar, Kalimantan Barat sampai ke Tanjung Aru di Kalimantan Timur.

Dalam masa dinas kerja yang sempit, hanya sejak Sabtu sore sampai dengan Minggu malam kami free, saya ingin meluangkan waktu untuk melihat-lihat objek wisata di sini. Setelah searching dan bertanya ke orang setempat, beberapa objek wisata yang bisa kami kunjungi adalah: Soto Banjar Anang, Pasar Apung, Pulau Kembang dan Pasar Intan Martapura.

  1. Soto Banjar Anang Martapura
soto-banjar-anang
kompasiana.com, kulineran.blogspot.co.id

“Sotonya Anang yang penyanyi itu?” begitu tanya saya ketika rekan kantor cabang setempat merekomendasikan kami untuk mencoba soto ini. Bukan milik Anang suaminya Ashanty ya, ini adalah soto banjar yang menjadi andalan kuliner Martapura. Kebetulan saja nama pemiliknya juga Anang. Soto Banjar ini dihidangkan dalam piring dengan telur bebek, bihun dan suwiran daging ayam.

Mungkin soal selera, namun lidah saya tidak terlalu cocok dengan sotonya. Dibilang soto tapi penyajiannya di piring dengan kuah dan nasi yang sudah bercampur. Sebenarnya lebih mirip sop kan? Tapi lumayanlah buat jadi penghangat perut di tengah cuaca yang sedang mendung.

2. Pasar Terapung di Sungai Barito

Masih ingat adegan iklan RCTI? ada ramai orang naik perahu-perahu kecil membawa sayur dan dagangan lainnya, lalu ending-nya salah satu ibu di perahu itu tersenyum dan mengacungkan ibu jari tangannya?

Ternyata lokasi iklan yang memorable itu ada di sini, pasar terapung sungai Barito. Untuk menuju ke sana, kami berangkat sebelum subuh saat mata masih kriyep-kriyep ke arah Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah (nama sultan pertama Kesultanan Banjar). Dari sana nanti titik keberangkatan perahu yang telah kami pesan untuk menyusuri sungai Barito.

dermaga-perahu-masjid-sultan-suriansyah

Seusai sholat berjama’ah, kami segera ke dermaga kecil di depan masjid, tempat warga lokal yang menawarkan jasa sewa perahu berada. Setelah memastikan lagi soal harga, kami segera naik dan perahu pun berangkat.

Gerak perahu membawa kami menyusur lurus ke arah selatan. Suasana subuh yang syahdu dan segar memberi kesan yang berbeda. Di tepian sungai tampak rumah-rumah warga yang mulai hidup. Para penghuninya akan segera memulai hari. Suara-suara mengaji masih terdengar dari kejauhan… Lanjutkan membaca “Menyusuri Martapura: Ibukota Terakhir Kesultanan Banjar”